PortalMadura.com–Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah tajam dan menembus di bawah level psikologis USD 90.000 pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Menurut data CoinMarketCap pukul 17.30 WIB, aset kripto terbesar dunia itu diperdagangkan di level USD 89.977, turun 7% dibandingkan sepekan lalu.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan global, termasuk ancaman tarif Amerika Serikat terhadap Eropa serta tekanan Washington kepada Denmark terkait kendali atas Greenland. Di sisi lain, gejolak di pasar obligasi Jepang turut memicu gelombang sentimen risk-off yang meluas ke seluruh aset berisiko—termasuk kripto.
“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri,” ujar Antony Kusuma, Vice President Indodax.
“Ketika pasar global masuk fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi bersamaan karena aksi jual.”
Kripto Kini Bagian dari Sistem Keuangan Global
Antony menjelaskan bahwa volatilitas jangka pendek kerap muncul saat investor institusional dan ritel beramai-ramai menyeimbangkan ulang portofolio mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari lonjakan volume perdagangan, peningkatan volatilitas, dan tekanan di pasar derivatif kripto.
“Yang perlu dicermati: pergerakan ini lebih didorong faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik kini menjadi variabel utama yang menggerakkan harga kripto.
Menurut Antony, semakin besarnya partisipasi investor institusional membuat Bitcoin tak lagi bergerak terisolasi, melainkan sebagai bagian integral dari sistem keuangan global. “Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar—kripto kini bereaksi layaknya aset kelas dunia,” katanya.
Investor Diminta Tetap Tenang dan Disiplin
Meski fluktuasi tajam memicu kepanikan, Antony mengingatkan pentingnya disiplin investasi. Ia menyarankan pelaku pasar untuk tetap melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, dan tidak terbawa emosi jangka pendek.
“Volatilitas memang karakter inheren pasar kripto. Tapi periode ketidakpastian justru menguji ketahanan investor,” ujarnya. “Perspektif jangka panjang dan pemahaman menyeluruh tentang konteks makro akan menentukan keberhasilan dalam berinvestasi di aset digital.”
Dengan kondisi global yang masih rentan, pergerakan Bitcoin diprediksi akan terus dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter—bukan hanya oleh narasi teknologi atau adopsi blockchain semata.
Baca Juga:




