PortalMadura.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencatatkan performa impresif sebesar 5,61% (yoy). Namun, kabar positif dari sektor riil ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar keuangan. Nilai tukar Rupiah terpantau terus merosot hingga menembus rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp17.425 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) siang.
Berdasarkan data Refinitiv pukul 11.15 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 0,35% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan UEA. Eskalasi militer tersebut memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan Rupiah saat ini masih sejalan dengan tren yang dialami mata uang regional lainnya. Meski ekonomi domestik menunjukkan resiliensi dengan pertumbuhan di atas ekspektasi, tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang melampaui US$110 per barel turut mempersempit ruang fiskal dan memicu kekhawatiran inflasi.
Update Harga emas dan Saham
Di sisi lain, harga emas batangan produksi Antam hari ini terpantau turun tipis. Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas ukuran 1 gram dibanderol Rp2.907.000, turun dari harga sebelumnya Rp2.908.000. Penurunan ini dinilai sebagai konsolidasi wajar di tengah fluktuasi kurs global.
Sementara itu, di pasar modal, saham-saham yang aktif diperdagangkan seperti Sanurhasta Mitra (MINA) dan Net Visi Media (NETV) menunjukkan volatilitas tinggi. Saham MINA terpantau terkoreksi 3,14% ke level Rp370 setelah sempat menguat signifikan pada pekan lalu. Para investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) di tengah ketidakpastian makroekonomi.
Analis pasar uang, Lukman Leong, memprediksi Rupiah masih akan bergerak di rentang sensitif Rp17.350 hingga Rp17.450 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan sembari pasar mencermati langkah intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan DNDF untuk menjaga stabilitas moneter.






