oleh

Gapuranisasi, Nuansa Kota Raja dan Wujud Kesadaran pada Sejarah

Siapkan Strategi Paket Wisata Religi

Gapura kembar di kantor kecamatan Arosbaya. (Foto: Agus Hidayat)

Tinggi dan besar gapura kembar di masing-masing titik memang terlihat tak sama. Menurut Anang, hal itu bukanlah menjadi persoalan, oleh karena disesuaikan dengan letak, kondisi, dan kemampuan desa yang bersangkutan. Yang terpenting bentuk, tekstur, serta nuansanya bergaya Majapahit.

“Program gapuranisasi memang bukan satu paket dengan pemugaran makam Ki Demung Plakaran. Gapuranisasi desa adalah program pemerintah kecamatan, sedang pemugaran makam leluhur adalah pogram pemerintah daerah Bangkalan lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tentu alokasi anggarannya berasal dari sumber yang berbeda,” cetus Anang.

Loading...

Selain melanjutkan gapuranisasi, pemerintah kecamatan Arosbaya telah menyiapkan strategi untuk lebih memperkenalkan dua lokasi komplek makam leluhur (makam Ki Demung Plakaran dan Makam Agung yang bersemayam jasad Pangeran Pragalbo, Ki Pratanu, dan Pangeran Koro), yang notabene jaraknya berdekatan, agar bisa menjaring lebih banyak peziarah.

Nantinya dibuatkan paket wisata religi berdasarkan silsilah, dengan maksud sebagai penghormatan kepada leluhur. Dengan kata lain lokasi pertama yang dikunjungi peziarah adalah makam Ki Demung Plakaran, kedua Makam Agung. Sedang lokasi ketiga adalah makam Aer Mata.

Strategi yang tentunya bersinergi dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Mereka akan berperan aktif sebagai pelaku pariwisata maupun pendukung pariwisata. Kedua peran tersebut diharapkan bisa lebih menghidupkan status Arosbaya sebagai Kota Raja pertama era Kerajaan Madura Barat.

“Untuk mewujudkan strategi tersebut, peran aktif masyarakat mutlak diperlukan. Pemerintah kecamatan tentunya juga perlu bersinergi dengan pemerintah daerah Bangkalan agar strategi tersebut bisa sejalan,” harap Anang.


Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah

Berita PortalMadura Aplikasi Android PortalMadura
Loading...

Komentar