oleh

Geliat Pandai Besi di Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan (Part-1)

Bidik Konsumen di Pasarean Ulama

Abdus Salam meneruskan usaha pandai besi mendiang ayahnya sejak tahun 2001. (Foto: Istimewa)

Produk yang dibuat tak sepenuhnya bergantung pesanan. Jika ada pesanan, biasanya pemesan datang langsung ke tempat pembuatan. Jenis dan ukuran yang dipesan terkadang tak sama, atau sesuai selera masing-masing. Jika pesanan dalam jumlah satuan, pemesan bisa menunggu hingga selesai sambil melihat proses pembuatan.

Pemilik pandai besi juga memanfaatkan bahan untuk membuat peralatan tajam yang sama dengan ukuran tertentu. Produk pandai besi kemudian langsung dijual. Sejauh ini tempat penjualan lebih banyak memanfaatkan pasar tradisional yang lokasinya tak jauh. Tak heran bila produk pandai besi asal Dusun Timur Sumber serta Desa Peterongan bisa didapat di Pasar Galis, Pasar Tanah Merah, serta Pasar Blega.

Loading...

“Kadang saya sendiri yang menjualnya langsung ke pasar tradisional dengan cara membuka lapak. Kadang juga orang lain yang ingin menjualnya untuk mendapatkan penghasilan. Untuk clurit saya hargai 25.000 hingga 35.000, pisau 10.000 hingga 20.000, sedang parang antara 35.000 hingga 60.000,” terangnya.

Salam juga menuturkan jika produk pandai besi asal dusunnya serta Desa Peterongan juga dijual di sekitar lokasi Pasarean (makam) Syaichona Mohamad Cholil di Martajasah, Bangkalan. Lebih dari lima gerobak penjual produk pandai besi mangkal di seputar makam ulama besar Madura tersebut.

Konsumen yang dibidik tentu saja para peziarah yang datang dari berbagai kota, umumnya dari Pulau Jawa. Usai berziarah diantara mereka tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendatangi gerobak penjual produk pandai besi. Tawar menawar langsung terjadi, yang diakhiri kesepakatan harga.

Cap …


Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah

Berita PortalMadura Aplikasi Android PortalMadura
Loading...

Komentar