Gencatan Senjata AS-Iran Gagal Total: Trump Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Melejit!

Avatar of Kenzo Chandra
Gencatan Senjata AS-Iran Gagal Total: Trump Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Melejit!
Gencatan Senjata AS-Iran Gagal Total: Trump Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Melejit!

PortalMadura.com – Situasi di Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinyatakan gagal total pada Senin (13/4/2026). Kegagalan diplomasi ini memicu langkah ekstrem dari Washington yang secara resmi mengumumkan blokade terhadap Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, yang langsung berdampak pada guncangan hebat di pasar komoditas global.

Trump Perintahkan Blokade Pelabuhan Iran

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa langkah militer berupa blokade pelabuhan merupakan strategi utama untuk melumpuhkan ekonomi Teheran. Sebelum bertolak ke Washington DC, Trump menyatakan bahwa operasi ini mendapat dukungan internasional guna menghentikan total ekspor minyak Iran ke pasar global.

“Blokade ini akan sangat efektif. Ini adalah respons tegas kami atas kegagalan jalur diplomasi yang sebelumnya diharapkan bisa meredakan ketegangan,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera.

Harga Minyak Dunia Meroket 8 Persen

Reaksi pasar terhadap pengumuman ini berlangsung instan dan masif. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Minyak mentah AS (WTI) tercatat melambung 8% ke angka US$104,24 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global merangkak naik 7% hingga menyentuh level US$102,29 per barel. Padahal, saat perundingan damai di Pakistan akhir pekan lalu, harga Brent sempat mendingin di kisaran US$95,20 per barel. Volatilitas ekstrem ini menunjukkan betapa sensitifnya ekonomi dunia terhadap stabilitas Selat Hormuz.

Lalu Lintas Selat Hormuz Lumpuh

Kondisi di Selat Hormuz dilaporkan kian mencekam. Iran menegaskan tidak akan membiarkan kapal militer AS melintas dan mengancam tindakan balasan jika kedaulatan mereka dilanggar. Data navigasi terbaru menunjukkan penurunan drastis aktivitas pelayaran.

Jika dalam kondisi normal terdapat sekitar 100 kapal per hari, dalam 24 jam terakhir hanya tiga kapal yang terpantau melintas, yakni dua kapal berbendera China dan satu berbendera Liberia. Beberapa kapal komersial lainnya dilaporkan memilih putar balik demi menghindari risiko keamanan yang tinggi.

Negara Teluk Cari Jalur Alternatif

Menghadapi potensi penutupan jalur utama, negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) mulai mengaktifkan rencana darurat. Arab Saudi dilaporkan telah mengoptimalkan pipa East-West yang mampu mengalirkan 7 juta barel minyak per hari tanpa melewati Hormuz. Selain itu, Qatar juga mulai melonggarkan pembatasan maritim untuk menjaga kelancaran distribusi logistik mereka.

Proyeksi Konflik Berkepanjangan

Mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, meragukan kesepakatan damai bisa dicapai dalam waktu singkat. Lewat platform X, ia mengingatkan bahwa kesepakatan nuklir masa lalu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dirumuskan, sehingga ekspektasi damai dalam hitungan jam adalah hal yang tidak realistis.

Senada dengan itu, Zohreh Kharazmi dari Universitas Teheran menyatakan Iran telah bersiap untuk skenario perang panjang. “Amerika tidak dalam posisi untuk mendikte kedaulatan Iran. Pemblokiran kawasan ini berisiko melumpuhkan industri global, tidak hanya minyak, tapi juga komoditas strategis seperti helium dan pupuk,” tegasnya.

Simpang Siur Kebijakan Militer AS

Di tengah eskalasi, terjadi perbedaan informasi antara pernyataan Presiden Trump dan Komando Pusat AS (CENTCOM). Trump sempat mengisyaratkan semua kapal internasional yang bertransaksi dengan Iran bisa menjadi target. Namun, CENTCOM mengklarifikasi bahwa blokade hanya menyasar kapal yang terafiliasi langsung dengan pelabuhan Iran, sementara kapal internasional bebas tetap dijamin kebebasan navigasinya.

Australia Tolak Terlibat Blokade

Dari panggung internasional, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendesak kedua belah pihak kembali ke meja perundingan. Albanese menegaskan bahwa Australia tidak akan berpartisipasi dalam aksi blokade tersebut.

“Kami ingin konflik ini segera berakhir. Pengumuman blokade ini dilakukan secara sepihak, dan kami tidak menerima permintaan untuk terlibat di dalamnya,” pungkas Albanese.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses