PortalMadura.com – Harga Bitcoin (BTC) terus menunjukkan tren penurunan, diperdagangkan di kisaran Rp1.052.346.004,38 atau sekitar US$58.714 pada hari Rabu, 1 Juli 2026.
Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini mengalami koreksi signifikan dalam 24 jam terakhir, menunjukkan pelemahan di pasar.
Penurunan ini merupakan bagian dari tren negatif yang lebih luas selama sebulan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Kinerja Bitcoin dalam Periode Terkini
Bitcoin telah mencatat penurunan sebesar 1,57% dalam 24 jam terakhir berdasarkan data TradingView.
Dalam seminggu terakhir, harga Bitcoin merosot 7,39%, sementara kinerja bulanan menunjukkan penurunan yang lebih tajam, mencapai 19,73%.
Sepanjang Juni 2026, Bitcoin terkoreksi 20,68%, turun dari US$73.536 menjadi US$58.327.
Koreksi ini menempatkan harga Bitcoin pada level terendah sejak September 2024 dan mendekati level terendah dalam 22 bulan terakhir.
Secara tahun berjalan (Year-to-Date/YtD), Bitcoin telah melemah 34,04%, jauh dari puncak Oktober 2025.
Beberapa sumber bahkan melaporkan penurunan sekitar 50% dari rekor tertinggi yang dicapai tahun lalu.
Statistik Pasar Kripto Saat Ini
Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai sekitar Rp21.050,07 triliun atau US$1,18 triliun.
Volume perdagangan 24 jam tercatat sebesar Rp611,48 triliun atau sekitar US$31,68 miliar.
Total pasokan Bitcoin yang beredar mencapai 20,1 juta dari total maksimum 21 juta keping, atau sekitar 96% dari suplai keseluruhan.
Aktivitas perdagangan menunjukkan 33% aksi jual dan 67% aksi beli, mencerminkan sentimen pasar yang beragam namun cenderung bearish.
Rata-rata investor menahan Bitcoin selama sekitar 104 hari, menunjukkan adanya kelompok investor jangka menengah.
Faktor-faktor Pendorong Penurunan Harga Bitcoin
Sentimen Makroekonomi dan Regulasi
Tekanan jual yang terus-menerus terhadap Bitcoin dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi global.
Kekhawatiran terkait suku bunga, inflasi, dan tingkat pengangguran di pasar global turut menekan harga.
Tekanan stagflasi di Amerika Serikat juga menjadi sorotan para analis sebagai pemicu pelemahan kripto.
Perubahan regulasi, seperti dampak aturan Markets in Crypto-Assets (MiCA) Uni Eropa, menyebabkan pergeseran aset dari bursa terpusat.
Perpindahan USDT senilai US$17,5 miliar dari platform UE ke bursa terdesentralisasi (DEX) menunjukkan respons pasar terhadap kebijakan ini.
Ketidakpastian regulasi dan potensi pengetatan kebijakan global terus menjadi risiko utama bagi pasar kripto.
Arus Keluar Institusional dan Geopolitik
Melemahnya permintaan institusional menjadi salah satu penyebab utama tekanan harga Bitcoin.
Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin yang terdaftar di AS mengalami arus keluar hampir US$4 miliar selama 12 sesi berturut-turut.
Ini merupakan rekor terpanjang untuk aliran keluar, menunjukkan sentimen negatif dari investor institusional.
Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, terutama di Timur Tengah, juga berkontribusi pada sentimen risk-off.
Pasar cenderung mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global, mengalihkan dana dari aset berisiko seperti Bitcoin.
Penjualan Bitcoin oleh perusahaan besar seperti Strategy Inc. juga memicu kegelisahan di pasar.
Analisis Teknis dan Sentimen Pasar
Secara teknis, Bitcoin menunjukkan sinyal bearish jangka pendek dengan indikator Relative Strength Index (RSI) yang oversold.
Pergerakan harga masih terjebak dalam rentang dengan tekanan jual yang dominan.
Area US$65.692 berfungsi sebagai zona suplai penting yang menahan kenaikan harga.
Sementara itu, US$61.590 menjadi zona permintaan utama yang berpotensi menarik harga jika tekanan bearish berlanjut.
Rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 34 dan 89 juga menahan upaya rebound, mengindikasikan dominasi penjual.
Sentimen pasar secara keseluruhan masih sangat dipengaruhi oleh berita dan spekulasi.
Berita positif dapat menaikkan harga, sementara berita negatif akan memicu penurunan.
Prospek Jangka Pendek dan Peluang Akumulasi
Tekanan jangka pendek pada Bitcoin diperkirakan akan terus berlanjut di tengah sinyal bearish.
Meskipun demikian, kondisi oversold dan fundamental jaringan yang kuat memberikan peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.
Fundamental Bitcoin tetap kuat, meskipun pasar kripto secara keseluruhan mengalami tekanan signifikan.
Para analis menyarankan investor untuk tetap memantau berita dan perkembangan terbaru secara menyeluruh.
Melakukan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) sangat penting sebelum membuat keputusan investasi.
Pasar kripto tetap sangat fluktuatif, dan investor perlu mempertimbangkan risiko tinggi yang menyertainya.







