Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah! Inflasi Timur Tengah & Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu

Avatar of PortalMadura.com
Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah! Inflasi Timur Tengah & Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu
Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah! Inflasi Timur Tengah & Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu

PortalMadura.comHarga emas dunia mengalami tekanan hebat dan menyentuh level terendah dalam sepekan terakhir pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, yang memaksa suku bunga tetap bertahan di level tinggi.

Mengutip data perdagangan pasar spot, harga emas jatuh sebesar 0,96% ke level US$ 4.694,53 per ons troi. Angka ini merupakan titik terendah sejak pertengahan April 2026. Bahkan, pada sesi perdagangan yang sama, harga logam mulia ini sempat merosot lebih dalam hingga lebih dari 1% ke posisi US$ 4.663,69 per ons troi.

Kondisi serupa terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Juni, yang ditutup anjlok 0,93% di level US$ 4.708,6 per ons troi.

Ketegangan AS-Iran dan Dampak Energi

Melansir laporan Reuters, tekanan terhadap harga emas muncul seiring meningkatnya eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang memanas ini mengancam stabilitas pasokan energi global dan meningkatkan risiko kegagalan gencatan senjata.

Analis logam independen, Tai Wong, menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah bereaksi terhadap potensi lonjakan harga minyak mentah. “Ketegangan antara AS dan Iran meningkatkan risiko kenaikan harga energi, yang pada akhirnya menyeret berbagai aset investasi, termasuk emas,” ungkap Wong.

Situasi di lapangan menunjukkan pengaruh Iran di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital dunia—kembali meningkat setelah perundingan damai menemui jalan buntu. Hal ini langsung mengerek harga minyak mentah jenis Brent hingga menembus angka di atas US$ 100 per barel.

Dilema Inflasi dan Suku Bunga

Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, prospek suku bunga tinggi menjadi penghalang utama. Kenaikan harga energi yang memicu inflasi justru membuat bank sentral, khususnya The Fed, cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas memudar ketika suku bunga tetap tinggi. Survei terbaru terhadap para ekonom menunjukkan kemungkinan besar The Fed baru akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga setidaknya enam bulan ke depan.

Faktor Dolar dan Melemahnya Logam Lain

Selain faktor geopolitik, penguatan indeks dolar AS turut memperparah koreksi harga emas. Menguatnya mata uang Paman Sam membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang bertransaksi dengan mata uang lain. Di saat bersamaan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga merangkak naik, meningkatkan biaya peluang bagi pemegang emas.

Penurunan harga tidak hanya melanda emas. Sejumlah logam mulia lainnya terpantau ikut memerah pada penutupan perdagangan Kamis:

  • Perak: Ambles 2,91% ke level US$ 75,45 per ons.
  • Platinum: Jeblok 3,28% ke level US$ 2.011,28 per ons.
  • Paladium: Rontok 4,85% ke level US$ 1.474,92 per ons.

Kondisi pasar saat ini masih sangat fluktuatif, bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat mendatang. Simak terus update berita ekonomi global hanya di portalmadura.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses