oleh

Hari Jumat, Baca Surah Yasin atau Al-Kahfi ?

PortalMadura.Com – Umumnya, pada malam atau hari Jumat orang membaca surah Yasin dan sudah menjadi tradisi di masyarakat terutama masyarakat Melayu seperti Indonesia. Biasanya, mereka membacanya selepas Magrib di rumah, masjid, ataupun musala baik itu sendiri maupun berjemaah. Lantas, bagaimana pandangan islam dalam membaca surah Yasin di malam atau hari jumat ? Berikut penjelasannya.

Pertama, membaca Al-Qur’an dianjurkan kepada kaum muslimin, bahkan termasuk amal utama. Pahalanya sangat besar di sisi Allah SWT. Kedekatan seseorang dengan Rabb-Nya bisa dilihat seberapa ia dekat dengan Al-Qur’an, karena ia adalah Kalamullah. Maka jika seseorang memperbanyak membaca Al-Qur’an maka itu baik untuknya, termasuk membaca surah Yasin, baik di malam Jumat atau malam-malam lainnya.

Kedua, Membaca Al-Qur’an termasuk amal ibadah mutlak, tidak terikat kapan dan dimana harus dibaca. Sementara mengkhususkannya dengan waktu dan tempat tertentu itu membutuhkan dalil. Dan tidak ditemukan dalil shahih tentang anjuran dan fadhilah membaca surah Yasin pada malam dan hari Jumat. Para ulama ahli hadits menghukumi keutamaan surah Yasin antara dhaif atau maudhu’. Sehingga seseorang tidak boleh menghususkannya pada malam Jumat dengan meyakini itu termasuk amal khusus yang disyariatkan padanya dan memiliki keutamaan tertentu.

Syaikh Abdurrahman al-Sahim dalam forum Syabkah Misykah Al-Islamiyyah menjawab pertanyaan seputar ini, “Shahihkah Hadits yang Menyebutkan Tentang Membaca Surat Yasin dan Al-Shaffat pada Malam Jumat?”.

Beliau menjawab, Ini tidak shahih. Dan disebutkan riwayat: Siapa yang membaca surat (Yasin) pada malam Jumat diampuni dosanya.

Syaikh Al-Albani berkata: “Dhaif Jiddan (sangat lemah,-ter)” (Lihat: Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib: no. 450). Dan tidak terdapat satu haditspun yang shahih tentang keutamaan surat Yasin.” Wallahu Taala Alam.

Apa yang Disyariatkan Dibaca Pada Malam dan Hari Jumat

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jumat adalah membaca surah Al-Kahfi. Berikut beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq. (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu,

Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat. (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Loading...

Siapa yang membaca surah  Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.

Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Kapan Membacanya?

Sunnah membaca surat Al-Kahfi yaitu sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jumat.

Imam Al-Syafi’i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surah Al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jumat dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi’i: 1/237).

Mengenai hal ini, Al-Hafidzh Ibnul Hajar rahimahullaah mengungkapkan dalam Amali-nya: Demikian riwayat-riwayat yang ada menggunakan kata “hari” atau “malam” Jumat. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “hari” temasuk malamnya. Demikian pula sebaliknya, “malam” adalah malam Jumat dan siangnya. (Lihat: Faidh al-Qadir: 6/199).

DR Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menyebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jumat adalah membaca surat Al-Kahfi berdasarkan hadits di atas. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241).

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat

Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya tersebut akan diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah SWT:

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat berupa ampunan dosa antara dua Jumat. Dan boleh jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jumat. Karena nur (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah SWT:

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (QS. Huud: 114)

Hari Jumat merupakan hari yang mulia, hendaknya setiap muslim memuliakannya dengan amal-amal ketaatan. Namun menetapkan amal-amal tersebut tidak boleh hanya dengan anggapan semata, tetapi harus didasarkan kepada tuntutan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang kita ketahui melalui sunnahnya. Karena dengan ittiba’ kepada sunnah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut, -sesudah ikhlas- seseorang akan diterima amal ibadahnya dan dicintai oleh Rabb-Nya. Dan tidak didapatkan sunnah shahihah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengkhususkan malam Jumat ataupun siang harinya dengan membaca surah Yasin.

Bersamaan itu, terdapat amal yang dianjurkan oleh beliau Shallallahu Alaihi Wasallam, yaitu membaca surat Al-Kahfi, dan inilah yang dianjurkan oleh Imam al-Syafi’i rahimahullah. Wallahualam.(voa-islam.com/Nanik)


Berita PortalMadura
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE