PortalMadura.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,43 persen pada penutupan sesi I perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, menembus level 6.217,88 poin.
Kenaikan ini terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, mengindikasikan sentimen positif yang kuat di kalangan pelaku pasar setelah sempat dibuka melemah di awal perdagangan.
Pada pembukaan pasar, IHSG sempat berada di zona merah pada level 6.112,770, menunjukkan awal yang kurang bertenaga.
Namun, indeks segera berbalik arah dan bergerak menguat secara konsisten sepanjang sesi pertama, bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6.230,500.
Penguatan tajam ini sebagian besar didorong oleh kinerja cemerlang saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Barito.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin kenaikan dengan melesat 25 persen, mencapai batas auto rejection atas (ARA).
Tidak ketinggalan, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga melonjak 24,8 persen, diikuti oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 23,2 persen.
Sementara itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mencatatkan kenaikan impresif sebesar 20,6 persen, menambah deretan saham Grup Barito yang menjadi primadona.
Secara sektoral, penguatan IHSG dipimpin oleh sektor bahan baku dan sektor infrastruktur, yang mana tujuh indeks sektoral lainnya berhasil ditutup di zona hijau hingga siang hari.
Minat transaksi investor terpantau meningkat dengan volume perdagangan mencapai 22 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 16,06 triliun pada sesi pertama.
Pergerakan positif ini juga sejalan dengan mayoritas bursa saham utama di kawasan Asia yang bergerak menguat, kecuali bursa Shanghai yang masih mencatatkan koreksi tipis.
Sebelumnya, sejumlah analis memprediksi pergerakan IHSG pada Jumat, 29 Mei 2026, akan bergerak terbatas atau bahkan rawan koreksi.
Pengamat pasar modal Hans Kwee, Co-Founder Pasardana, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.950-6.000 dan resistance 6.200-6.286.
Hans juga menyoroti potensi volatilitas tinggi seiring dengan rebalancing MSCI yang akan efektif pada 1 Juni 2026, meskipun sebagian besar fund manager kemungkinan sudah melakukan penyesuaian portofolio.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebutkan tekanan dari sentimen global, khususnya meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, dapat membebani bursa domestik.
Alrich secara teknikal menilai IHSG mulai menunjukkan indikasi perbaikan terbatas, dengan Stochastic RSI yang berpotensi reversal ke arah pivot dan histogram MACD negatif yang menyempit, memprediksi kisaran 6.000-6.200.
Faktor pelemahan rupiah juga menjadi perhatian utama yang membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek, menurut Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.
Depresiasi rupiah dipengaruhi oleh kombinasi penguatan dolar AS, dinamika geopolitik, serta periode repatriasi dividen oleh investor asing.
Nafan menambahkan bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi penekan utama IHSG karena bobotnya yang dominan, meskipun fundamental perbankan domestik tetap solid.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG rawan bergerak koreksi dengan support 6.075 dan resistance 6.206, dipengaruhi rebalancing MSCI dan negosiasi AS-Iran.
Namun, pengamat pasar modal Irwan Ariston menilai isu rebalancing indeks MSCI tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG dalam jangka pendek karena sudah didiskon oleh pelaku pasar.
Menurut Irwan, pergerakan pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi domestik, khususnya terkait kepercayaan investor.
Ia menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sebagai salah satu indikator menurunnya kepercayaan pasar, terutama di saat mata uang negara lain cenderung menguat atau netral.
Irwan menekankan bahwa kepercayaan merupakan faktor utama dalam investasi, dan tanpa kepercayaan yang solid, saham apa pun menjadi kurang menarik karena risiko meningkat.
Meskipun demikian, IHSG pada hari ini berhasil melawan prediksi sebagian analis dan menunjukkan kekuatan yang mengejutkan.
Reli ini menunjukkan resiliensi pasar domestik di tengah beragam sentimen negatif yang beredar.
Investor disarankan untuk tetap selektif dan mengedepankan manajemen risiko dalam menyusun portofolio.
Beberapa analis merekomendasikan untuk mencermati saham berbasis ekspor, energi, dan saham defensif yang tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor.
Kinerja impresif IHSG pada sesi pertama perdagangan hari ini memberikan optimisme bagi pasar, meskipun volatilitas diperkirakan akan tetap membayangi.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via Stockbit menjadi sumber informasi utama penutupan sesi I hari ini.
Analisis Sentimen Pasar: Mengapa IHSG Melesat?
Lonjakan IHSG yang terjadi pada Jumat ini menarik untuk dianalisis lebih lanjut mengingat adanya berbagai sentimen yang sebelumnya diprediksi akan menekan pasar.
Salah satu faktor pendorong utama adalah aksi beli yang masif pada saham-saham unggulan, terutama dari sektor konglomerat.
Saham-saham Grup Barito seperti BREN dan BRPT, yang sebelumnya sempat tertekan setelah pengumuman rebalancing MSCI dan FTSE, kini bangkit menjadi motor penggerak indeks.
Hal ini mengindikasikan bahwa investor melihat peluang di tengah koreksi sebelumnya dan mulai melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat.
Sentimen positif dari bursa Asia-Pasifik yang mayoritas menguat juga turut memberikan dukungan bagi pasar domestik.
Perkembangan terkait konflik Iran dan Amerika Serikat yang menunjukkan sinyal menuju kesepakatan sementara turut meredakan kekhawatiran geopolitik global.
Meskipun begitu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi perhatian yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut oleh pelaku pasar.
Volume transaksi yang tinggi pada sesi pertama menunjukkan minat yang besar dari investor untuk berpartisipasi di pasar.
Ini menandakan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek pasar modal Indonesia masih cukup kuat di tengah dinamika global.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi domestik dan global, termasuk kebijakan moneter dan inflasi.
Kondisi fundamental emiten dan manajemen risiko yang cermat akan menjadi kunci bagi investor untuk mengoptimalkan potensi keuntungan.
Rekomendasi Analis untuk Investor di Tengah Volatilitas
Meskipun IHSG mencatatkan kenaikan, para analis tetap menyarankan kehati-hatian mengingat potensi fluktuasi yang masih ada.
Hans Kwee menyarankan investor untuk lebih selektif dan mengedepankan manajemen risiko dalam menghadapi pergerakan pasar.
Analis juga merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham yang menarik secara teknikal dan memiliki fundamental kuat.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) direkomendasikan dengan target harga pada kisaran Rp 1.815-Rp 2.100.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga menjadi saham pilihan dengan target harga di rentang Rp 1.420-Rp 1.510.
Selain itu, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga mendapatkan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 7.975-Rp 8.225.
Beberapa analis juga merekomendasikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebagai pilihan menarik secara teknikal.
Fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang cerah akan menjadi strategi yang bijak.
Diversifikasi portofolio dan pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan pasar juga sangat penting untuk meminimalkan risiko.
Keputusan investasi selalu ada di tangan pembaca, dan penting untuk melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan.





