PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan fluktuatif pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Mata uang Garuda sempat menguat pada pembukaan, namun kemudian kembali tertekan di pasar spot siang hari.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka perkasa pada Jumat pagi, menguat ke level Rp17.814 per dolar AS, naik 32 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.846 per dolar AS.
Penguatan awal ini didorong oleh melemahnya indeks dolar AS menyusul meredanya inflasi di Amerika Serikat.
Namun, tekanan kembali terasa pada siang hari, dengan rupiah spot melemah 0,21% ke level Rp17.884 per dolar AS pada pukul 11.44 WIB, menurut Kontan.co.id.
Kompas.com juga melaporkan bahwa rupiah bergerak melemah 0,17 persen atau 30,50 poin ke posisi Rp17.876 per dolar AS pada pukul 10.57 WIB, kemudian sedikit berubah menjadi Rp17.870 per dolar AS pada pukul 11.46 WIB.
Data dari Google Finance dan Investing.com menunjukkan dolar AS diperdagangkan di kisaran Rp17.855-Rp17.857 terhadap rupiah pada Jumat ini.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kurs transaksi jual dolar AS pada 29 Mei 2026 sebesar Rp17.877,94 dan kurs beli sebesar Rp17.700,06.
Bank swasta besar seperti BCA juga mematok e-Rate dolar AS pada Jumat pukul 13:04 WIB di Rp17.862,00 (beli) dan Rp17.882,00 (jual).
Nilai tukar rupiah memang telah menghadapi tekanan signifikan sepanjang Mei 2026.
Pada 19 Mei 2026, rupiah tercatat melemah 2,2 persen ke Rp17.700 per dolar AS dibandingkan akhir April 2026.
Bahkan, rupiah sempat menyentuh level terlemahnya sepanjang masa pada periode ini.
Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh gejolak global, terutama konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Konflik tersebut telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, memperburuk rantai pasok global, dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset ‘safe haven’ seperti dolar AS.
Di sisi lain, ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi AS juga menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebagai respons, Bank Indonesia mengambil langkah tegas untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi domestik.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.
Suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga ini adalah langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
BI juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar spot guna menstabilkan rupiah.
Selain itu, BI memperketat pengawasan terhadap bank dan perusahaan yang melakukan pembelian dolar AS dalam jumlah besar untuk memitigasi spekulasi.
Meskipun tekanan eksternal tinggi, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy), didukung oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 juga terjaga rendah di angka 2,42 persen (yoy), turun dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,48 persen, dan kembali dalam rentang sasaran BI.
Namun, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Mei 2026, bahkan berisiko mencapai Rp22.000 jika level tersebut terlampaui.
Menurut Ibrahim, tekanan ini juga dipengaruhi oleh faktor musiman seperti pembayaran aset keuangan domestik kepada investor non-residen yang meningkatkan kebutuhan dolar AS pada kuartal II 2026.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpendapat bahwa rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp17.800-Rp17.900 hari ini jika pelemahan dolar AS direspons dengan intervensi BI yang lebih kuat.
Melemahnya indeks dolar AS (DXY) global, sebagian disebabkan oleh data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang lebih rendah dari perkiraan serta laporan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran, memberikan sedikit ruang bagi mata uang Asia untuk bangkit.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada 29 Mei 2026 mencerminkan tarik-menarik antara sentimen global yang memicu pelemahan dan upaya Bank Indonesia serta fundamental ekonomi domestik yang berupaya menahan tekanan tersebut.
Kebijakan moneter pro-stabilitas dan makroprudensial pro-pertumbuhan dari Bank Indonesia akan terus menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan di tengah dinamika pasar global yang terus bergejolak.
Pemerintah juga terus memperkuat iklim investasi dan kemudahan berusaha untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.





