oleh

Ingin Cantik Seperti Putri Keraton? Lakukan 5 Perawatan Tradisional Ini

PortalMadura.Com – Sejak zaman keraton dulu kecantikan putri-putrinya sudah sangat terkenal bahkan ke seantero negeri. Tidak hanya tutur kata dan sikap lemah-lembut nan bersahaja, paras cantik para putri raja juga sering menjadi tolak ukur dalam menggambarkan kesempurnaan seorang wanita Indonesia khususnya di tanah Jawa.

Ternyata kecantikan para putri keraton berasal dari beragam ramuan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami. Oleh karena itu, aura kecantikan yang terpancar sangat mempesona. Hal ini dilansir PortalMadura.Com, Senin (28/10/2019) dari laman fimela.com yang dilansir dari beberapa sumber.
Nah, jika Anda ingin cantik seperti putri karaton, lakukan beberapa hal ini:

Merawat Tubuh dengan Lulur dari Tanaman Herbal

Lulur menjadi salah satu perawatan kecantikan untuk tubuh yang banyak dilakukan wanita Indonesia untuk mendapatkan kulit yang sehat, bersih, dan halus. Para putri di keraton Jawa biasanya mandi menggunakan lulur yang dibuat dari tanaman-tanaman herbal seperti kunyit yang memiliki kandungan antiseptik dan antibakteri untuk kulit.

Menurut penuturan Gusti Kanjeng Ratu Alit, yang tidak lain adalah putri tertua dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII pada Radar Solo, kunyit juga mampu mengobati atau menghilangkan luka pada kulit, serta membuat kulit menjadi halus. Lalu juga ada lulur mangir yang terbuat dari temu giring dan kunyit yang dihaluskan. Menurut halaman Info Budaya, lulur mangir memiliki manfaat untuk mencerahkan kulit.

Menggunakan Kosmetik dengan Kandungan Kepompong Emas

Dilansir dari halaman Tempo, kelima putri dari Sultan Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, menggunakan kosmetik yang terbuat dari golden cocoon atau kepompong emas untuk menjaga kecantikan mereka.

Kepompong emas diketahui mengandung kandungan senyama anti-oksidan dan zat brightening yang bermanfaat untuk membantu menjaga keremajaan kulit dan dapat membuat kulit menjadi cerah. Menggunakan golden cocoon sebagai perawatan kecantikan bisa menjadikan kulit lebih nernutrisi, sehat, dan juga halus.

Loading...

Minyak Cem-ceman untuk Keindahan dan Kesehatan Rambut

Selain kulit yang bersih, para puteri keraton juga memiliki rambut hitam yang berkilau. Dilansir dari halaman Femina, untuk mendapatkan rambut hitam dan sehat, putri raja biasanya menggunakan minyak rambut yang dibuat dari beberapa jenis tanaman tradisional seperti minyak kelapa, daun waru, daun mangkokan, irisan pandan, bunga kenanga, dan melati. Ramuan yang biasanya disebut sebagai minyak cem-ceman ini dipercaya dapat menyehatkan dan menutrisi akar rambut.

Baca Juga: Ultah ke-6, Nyai Hj. Mimin : PortalMadura.Com Bangun Narasi Konten Berita Edukatif

Tapel untuk Mengecilkan Perut Pasca Melahirkan

Biasanya seusai melahirkan, tubuh wanita akan mengalami perubahan yang cukup signifikan terutama di bagian perut. Seperti yang termuat pada halaman Info Budaya, para putri keraton Jawa menggunakan tapel untuk mengembalikan kekencangan kulit perut pasca melahirkan.

Tapel dibuat dengan menggunakan tepung beras, kencur, adas, pulosari, bangle, klabet, jahe, dan kayu manis. Sebelum digunakan tapel dicampur dengan menggunakan air terlebih dahulu hingga lunak, baru setelah itu ramuan tersebut dibalurkan di perut, kemudian ditutupi daun sirih dan dibebat dengan menggunakan kain atau stagen. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, biasanya perawatan ini dilakukan secara rutin selama 40 hari lamanya.

Merawat Kecantikan dari Dalam dengan Jamu

Selain merawat kecantikan dari luar, para puteri raja-raja Jawa juga selalu mengonsumsi berbagai macam ramuan tradisional yang direbus alias jamu sebagai perawatan kecantikan dari dalam.
Jamu sendiri terdiri dari beberapa jenis, yang disesuaikan dengan manfaatnya. Misalnya jamu kunir asam untuk melancarkan dan menghilangkan nyeri datang bulan, serta juga bermanfaat untuk detoksifikasi. Atau jamu kunci sirih yang dipercaya bermanfaat untuk menghilangkan masalah keputihan, menghilangkan bau badan, hingga merapatkan bagian kewanitaan. Di lansir dari halaman Kompasiana, ternyata jamu sudah ada semenjak zaman Kerajaan Hindu, lho!

 


Rewriter : Desy Wulandari
Sumber : fimela.com


Berita PortalMadura
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE