oleh

Ini Bukti KH Abdullah Sajjad Guluk-guluk Gugur Pada Masa Agresi Belanda II

PortalMadura.Com, Sumenep – Menandai tempat meninggalnya KH. Abdullah Sajjad Syarqawi pada hari Selasa tanggal 20 Muharram 1367 H atau 3 Desember 1947 di tangan tentara Belanda terdapat sebuah monumen di lapangan sepak bola Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pada monumen itu bertuliskan “Di Sini Pada Tanggal 03 Desember 1947 K.H. Abdullah Sajjad Syarqawi Ketua Barisan Sabilillah Gugur Sebagai Syahid Pada Masa Agresi Belanda II”.

Siapa KH. Abdullah Sajjad Syarqawi itu?. Secara genealogis, beliau lahir dari perpaduan darah Kudus dan Sumenep. Ayahnya KH Mohammad Syarqawi merupakan ulama pendatang asal Kudus, Jawa Tengah. Kiai Syarqawi ini juga tercatat sebagai pendiri Pondok Pesantren An Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep (meski nama An Nuqayah justru ditetapkan sebagai nama pesantren ini jauh setelah wafatnya Kiai Syarqawi).

Sedangkan ibunya Nyai Mariyah adalah putri Kiai Idris, tokoh agama asal Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Nyai Mariyah ini merupakan saudara kandung Kiai Khothib, ayah KH Ahmad Jauhari, pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep.

Dari nasab, Kiai Abdullah Sajjad berasal dari kalangan elit pesantren. Asal usulnya ini kemudian lebih diperkuat oleh kedalaman ilmu yang lazim dimiliki para putra-putra kiai setelah lama keluar menuntut ilmu agama ke beberapa pesantren terkenal di masa itu.

Tak hanya itu, Kiai Sajjad juga berhasil menduduki kursi Kepala Desa Guluk-guluk setelah bersedia masuk bursa pencalonan. Jabatan ini didapat tidak lebih karena dilatarbelakangi oleh kepentingan da’wah.

Memang secara karakter, Kiai Sajjad merupakan tipologi pemimpin pesantren yang lebih aktif melakukan pembenahan eksternal. Sehingga kedekatannya dengan masyarakat sangat diakui. Bahkan setiap ada tetangga yang sakit, beliau bersama sebagian santrinya berkunjung sembari membacakan qasidah Burdah untuk mendoakan yang sakit itu. Sehingga dengan menjadi pemimpin desa, cita-citanya untuk menanamkan Islam secara institusional dipandang lebih mudah.

Pelantikan Kiai Sajjad sebagai kalebun (kepala desa) hampir bersamaan dengan agresi militer Belanda tahun 1947. Belanda yang tidak menerima kedaulatan RI melakukan kontak fisik di daerah-daerah NKRI setelah sebelumnya melakukan gencatan senjata sebagai konsekuensi dari kesepakatan perjanjian Linggarjati.

Loading...

Padahal awalnya justru perjanjian Linggajati dianggap sebagai kekalahan diplomasi Indonesia karena Republik Indonesia terlalu banyak mengalah terhadap Belanda.
Keuntungan yang didapat pihak Indonesia hanya berupa pengakuan de facto kekuasaan Indonesia atas pulau Jawa dan Sumatera. Sedangkan keuntungan yang diperoleh pihak Belanda adalah memecah belah NKRI.

Gangguan kembali Belanda ini lebih memantapkan tekad Kiai Sajjad untuk lebih aktif di ranah eksternal pesantren. Sehingga fungsi pesantren sebagai rumah ilmu untuk sementara digeser menjadi markas menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda yang ingin kembali menjajah.
Posisi pemimpin laskar Sabilillah yang awalnya dipegang kakaknya, kiai Mohammad Ilyas, dialihkan ke kiai Sajjad yang dibantu oleh keponakannya kiai Khazin bin Mohammad Ilyas.
Gerakan-gerakan untuk memutus akses Belanda ke Sumenep mulai dilancarkan. Namun tentu saja perang antar dua kekuatan yang tak seimbang kerap melahirkan resiko kekalahan di pihak yang lebih sedikit laskar dan minim persenjataan.

Kondisi ini membuat Kiai Sajjad dan keluarga besar An Nuqayah terpaksa mengungsi ke tempat yang aman. Kiai Sajjad sendiri dan kiai Khazin bersembunyi di Desa Karduluk kediaman Kiai Ahmad Bahar, saudara dekatnya.
Sebelumnya sempat dianjurkan Kiai Bahar agar sementara waktu keduanya bersembunyi di pulau Jawa, ternyata ditolak oleh kiai Sajjad. Alasannya beliau tidak ingin meninggalkan warga dan keluarganya di Guluk-guluk.

Setelah beberapa bulan lamanya bersembunyi, tepatnya di bulan November 1947, datang seorang santri utusan dari Belanda yang membawa kabar bahwa Guluk-guluk sudah aman. Kiai Sajjad tanpa berprasangka buruk akhirnya kembali ke Guluk-guluk, dan sempat melaksanakan salat Ashar dan Maghrib dengan berjamaah bersama warga sekitar yang langsung beramai-ramai mengunjungi beliau.
Namun selesai salat maghrib beberapa tentara Belanda tiba-tiba datang dan memaksa kiai Sajjad agar menyerahkan diri. Hampir saja terjadi kontak fisik antara warga dan tentara Belanda, namun demi tidak terjadi korban di fihak warga, kiai Sajjad rela menyerahkan diri.

Selanjutnya beliau dibawa ke lapangan guluk-guluk dan dieksekusi di sana. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Semoga jejak perjuangannya terus dilanjutkan oleh para santrinya untuk membela agama dan bangsa.(lontarmadura/har)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar