JP Morgan Ramai Prediksi IHSG Mampu Tembus Level 7.000 di Akhir 2026, Ini Pendorongnya

Avatar of PortalMadura.com
JP Morgan Ramai Prediksi IHSG Mampu Tembus Level 7.000 di Akhir 2026, Ini Pendorongnya

portalmadura.com – Lembaga keuangan global JP Morgan memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bangkit dan menembus level psikologis 7.000 pada akhir tahun 2026. Proyeksi optimistis ini muncul di tengah tren pelemahan pasar saham domestik yang terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun berjalan.

Berdasarkan data pasar modal hingga Kamis (3/9/2026), pergerakan IHSG tercatat mengalami penurunan lebih dari 20 persen jika dibandingkan posisi awal tahun yang sempat menyentuh level 9.134,7.

Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menjelaskan bahwa target IHSG di level 7.000 pada Desember 2026 didorong oleh perbaikan sentimen pasar. Selain itu, posisi kepemilikan dana investor domestik maupun asing saat ini dinilai sudah berada di tingkat yang relatif rendah, sehingga menyimpan potensi amunisi beli yang besar.

“Tim JP Morgan masih mengestimasi target IHSG hingga Desember berada di level 7.000. Investor asing sudah banyak melakukan aksi jual, dan jika melihat fund fact sheet reksa dana ekuitas di Indonesia, tingkat dana kas (cash level) mereka sebenarnya cukup tinggi. Artinya, ada banyak amunisi untuk masuk kembali ke pasar tahun ini,” ujar Benny dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Selain amunisi likuiditas, JP Morgan menilai prospek pertumbuhan kinerja keuangan emiten masih bergerak di zona positif. Konsensus analis memperkirakan rata-rata pertumbuhan laba bersih emiten domestik mampu mencapai kisaran 9 persen pada tahun 2027.

Menurut Benny, fondasi pertumbuhan kinerja emiten tersebut akan ditopang oleh realisasi belanja pemerintah (government spending) serta ekspansi investasi yang terus bergulir.

Faktor Eksternal Tekan Pergerakan IHSG

Mengenai koreksi tajam IHSG sepanjang tahun 2026, JP Morgan menilai tekanan tersebut lebih banyak dipicu oleh dinamika faktor eksternal ketimbang kondisi fundamental ekonomi nasional.

Kombinasi kenaikan harga minyak dunia, era suku bunga tinggi, serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi di negara-negara maju menjadi penyebab utama berkurangnya daya tarik pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan pasar kian bertambah setelah penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital Index (MSCI), melakukan penyesuaian pada Februari lalu. Kebijakan tersebut memicu aliran modal keluar (equity outflow) dari investor asing dengan estimasi mencapai 4 hingga 5 miliar dollar AS sepanjang tahun berjalan.

Di samping faktor moneter global, ancaman cuaca ekstrem El Nino turut memengaruhi persepsi risiko investor. Fenomena iklim ini berdampak pada rantai pasok dan produksi komoditas pangan penting seperti beras, gula, kopi, hingga gandum. Sebagai salah satu negara pengimpor gandum terbesar, Indonesia turut merasakan dampak kenaikan harga komoditas pangan global tersebut.

Meski menghadapi berbagai tantangan eksternal dan tekanan marjin akibat kenaikan biaya input di sejumlah sektor, portalmadura.com mencatat JP Morgan tetap optimistis terhadap fundamental jangka panjang pasar modal Indonesia yang dinilai masih solid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses