portalmadura.com – Aksi mogok kerja massal yang direncanakan oleh serikat pekerja raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics, kini memicu alarm kewaspadaan tinggi di tingkat global. Langkah tersebut diprediksi bakal mengguncang rantai pasok industri semikonduktor dunia, bahkan efek dombanya berpotensi besar melumpuhkan sektor manufaktur elektronik di Indonesia dalam waktu dekat.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa konflik industrial ini bukan lagi sekadar dinamika internal perusahaan. Mengingat posisi vital Korea Selatan sebagai jantung produksi komponen elektronik bernilai tinggi dunia, gangguan pada lini produksi Samsung dipastikan akan memicu efek domino yang sangat masif.
“Korea Selatan saat ini menguasai lebih dari separuh pasar memori dunia melalui Samsung dan SK Hynix. Mereka juga mendominasi pasar panel display lewat Samsung Display dan LG Display,” ujar Yusuf saat memberikan keterangan pada Senin (18/5/2026).
Baca Juga:
Indocare Luncurkan Strategi Penjualan Online Inovatif Bersama Transcosmos untuk Skincare Confiant
Dampak Tersembunyi pada Industri Manufaktur di Indonesia
Ketergantungan industri dalam negeri terhadap pasokan komponen dari Negeri Gingseng ternyata tergolong sangat dalam. Banyak industri perakitan gawai pintar (smartphone), televisi, pendingin ruangan (AC), hingga peralatan rumah tangga (home appliances) yang beroperasi di kawasan industri strategis seperti Cikarang dan Karawang sangat bergantung pada komponen tier-1 asal Korea Selatan.
Yusuf membeberkan bahwa ikatan ini sering kali tidak terbaca secara gamblang dalam data perdagangan resmi nasional. Pasalnya, banyak komponen yang masuk ke tanah air melalui jalur transit (transhipment) dari Vietnam dan Tiongkok terlebih dahulu.
“Kalau pasokan dari Korea terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lini produksi Samsung di Indonesia, tetapi juga seluruh ekosistem perakitan elektronik, termasuk merek-merek China yang berproduksi di sini namun tetap memakai komponen asal Korea,” jelas Yusuf secara terperinci.
Kelangkaan Cip AI dan Lonjakan Nilai Kerugian
Senada dengan pandangan tersebut, Analis Pasar Smartphone Indonesia, Aryo Meidianto Aji, memaparkan data bahwa Korea Selatan menguasai lebih dari 60 persen pasar DRAM global melalui Samsung dan SK Hynix, di mana porsi Samsung sendiri menyumbang hampir setengahnya. Bahkan untuk ceruk pasar High Bandwidth Memory (HBM) yang menjadi komponen vital teknologi Kecerdasan Buatan (AI), dominasi Korea Selatan mencapai angka fantastis hingga hampir 90 persen.
Jika aksi mogok massal ini terus berjalan hingga target 18 hari, pasokan cip memori kelas server serta HBM untuk kebutuhan AI global dipastikan bakal mengetat. Kondisi tersebut otomatis menghambat laju produksi pusat data (data center) dan infrastruktur server AI di seluruh dunia.
Proyeksi dari pelaku industri menunjukkan bahwa kelumpuhan operasional ini berpotensi memangkas sekitar 3 hingga 4 persen pasokan DRAM global serta 2 hingga 3 persen pasokan NAND. Di atas kertas, persentase tersebut terlihat kecil, namun dalam skala volume perdagangan internasional nilai tersebut setara dengan miliaran dolar AS dan merepresentasikan jutaan unit perangkat elektronik.
Situasi ini kian rumit lantaran produsen memori kompetitor seperti SK Hynix atau Micron tidak memiliki kapasitas longgar untuk langsung memacu produksi mereka guna menutupi kekosongan pasar dalam waktu singkat.
Negosiasi Buntu dan Serikat Pekerja Tetap Kukuh
Hingga saat ini, serikat pekerja terbesar di Samsung Electronics dilaporkan tetap teguh pada pendiriannya untuk melangsungkan aksi mogok kerja selama 18 hari. Sebanyak 41.000 pekerja telah menyatakan kesiapannya untuk turun aksi, dan jumlah ini diproyeksikan bisa terus membengkak hingga melampaui angka 50.000 orang.
Akar permasalahan dari aksi mogok ini dipicu oleh ketidaksepakatan mengenai sistem pembagian bonus berbasis kinerja. Upaya mediasi selama dua hari yang dipimpin langsung oleh pemerintah Korea Selatan pada Rabu (13/5/2026) lalu pun berakhir buntu tanpa membuahkan titik temu.
Ketua Serikat Pekerja Samsung Electronics, Choi Seung-ho, menegaskan bahwa pihaknya menolak tawaran proposal baru dari pihak manajemen yang meminta perundingan tanpa prasyarat. Pihak pekerja memilih untuk memanfaatkan hak konstitusional mereka dan menutup pintu komunikasi hingga awal bulan depan.
“Kami bersedia berdiskusi setelah 7 Juni. Kami berniat menggunakan hak yang dijamin konstitusi,” tegas Choi Seung-ho sebagaimana dihimpun dari laporan kantor berita Yonhap pada Jumat (15/5/2026).
Dengan sikap keras dari kedua belah pihak, pelaku industri elektronik di dalam negeri kini harus mulai menyusun langkah mitigasi guna mengantisipasi keterlambatan pasokan komponen yang diprediksi mulai terasa pada sisa kuartal kedua tahun ini.





