PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan sejarah kelam pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda kian terpuruk hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.510 per dolar AS, level terendah yang pernah tercatat dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Berdasarkan data pasar spot yang dihimpun pada Selasa sore, Rupiah melemah signifikan sekitar 0,6% dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan hebat ini membuat posisi mata uang domestik semakin menjauh dari asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.
Geopolitik Selat Hormuz Picu ‘Shock’ Pasar
Pelemahan tajam ini tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan jalur vital Selat Hormuz selama lebih dari 10 minggu akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi dunia.
Kenaikan harga minyak mentah yang kini bertengger di atas US$100 per barel memperparah kondisi fiskal Indonesia. Sebagai negara importir energi, lonjakan harga minyak dunia ini memberikan beban ganda terhadap stabilitas nilai tukar dan anggaran negara.
Investasi Asing Kabur (Capital Outflow)
Ketidakpastian global membuat investor asing cenderung mengambil posisi aman (risk-off) dan menarik modal mereka dari pasar keuangan domestik. Sepanjang tahun 2026 berjalan (year-to-date), aksi jual bersih atau net sell asing telah mencapai angka fantastis Rp38,36 triliun di pasar saham.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kombinasi sentimen eksternal dan domestik saat ini menciptakan efek domino yang cepat. “Gejolak di Asia Barat mendorong penguatan dolar AS secara global, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah,” ujarnya di Jakarta.
Dunia Usaha Mulai Tercekik
Kondisi ini mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku industri nasional. Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menyebutkan bahwa sekitar 70% bahan baku manufaktur di Indonesia masih bergantung pada impor. Dengan depresiasi Rupiah yang sangat dalam, biaya produksi otomatis membengkak.
“Situasi ini menunjukkan adanya tekanan inflasi dari sisi biaya (cost-push inflation) yang luas. Jika tidak segera stabil, ini akan mengganggu arus kas perusahaan hingga penyerapan tenaga kerja,” tegas Shinta.
Respons Bank Indonesia dan Pemerintah
Menanggapi situasi kritis ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan telah melakukan intervensi agresif di pasar valas untuk menjaga volatilitas. Meski fundamental ekonomi Indonesia diklaim tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, BI mengakui tekanan global kali ini sangat ekstrem.
Sementara itu, DPR RI melalui Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah dan otoritas moneter untuk segera merumuskan langkah taktis. “Situasi ini jangan sampai membuat Indonesia terpuruk. Stabilitas nilai tukar harus menjadi prioritas utama untuk melindungi daya beli masyarakat,” pungkasnya.







