PortalMadura.com — Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis, 17 September 2026, tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,51% ke level Rp17.745,7 per dolar Amerika Serikat (USD). Posisi ini menunjukkan koreksi sebesar 89,8 poin apabila dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.655,9 per USD.
Berdasarkan data pergerakan real-time USD/IDR pukul 12:01 WIB, mata uang Garuda sempat dibuka stabil di level Rp17.655,9 sebelum akhirnya bergerak tertekan sepanjang sesi perdagangan harian. Rentang pergerakan tercatat berada di kisaran Rp17.670,4 hingga Rp17.762,5 per dolar AS.
Sentimen Global dan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Pelemahan rupiah kali ini terutama dipicu oleh penguatan dolar AS di kancah global setelah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4,00%. Kebijakan tersebut direspons pasar dengan lonjakan penguatan pada mata uang Paman Sam.
Selain faktor global seperti tingginya harga komoditas minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dinamika domestik. Tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB, serta data utang luar negeri Indonesia per Juli 2026 yang menyentuh angka US$453,4 miliar turut menjadi sorotan para pelaku pasar.
Kinerja Jangka Pendek dan Prospek
Meskipun secara mingguan rupiah masih mencatatkan penguatan sebesar 1,20%, pergerakan dalam sebulan terakhir menunjukkan koreksi tipis sekitar 0,44%. Tekanan yang terjadi pada perdagangan hari ini dinilai para analis lebih bersifat jangka pendek seiring merespons sentimen pengetatan kebijakan moneter global.
Bagi masyarakat maupun investor yang ingin memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar valuta asing, pengelolaan portofolio yang cermat menjadi langkah penting di tengah dinamika pasar keuangan saat ini.





