oleh

Madura FC Resmi Ajukan Nota Protes, Ini Fakta Dugaan Kecurangan di Martapura

PortalMadura.Com, Sumenep – Manajemen Madura FC secara resmi sudah melayangkan nota protes atas jalannya pertandingan kontra Martapura FC dengan Madura FC pada laga lanjutan Liga 2 2018 di Stadion Demang Lehman Martapura, Minggu (15/7/2018), kick off pukul 16.00 WITA.

Pengajukan nota protes atas kepemimpinan wasit itu dalam bentuk hard copy maupun soft copy sesaat setelah pertandingan berlangsung. “Dalam regulasinya, jangka waktu pengajuan protes itu tidak melebihi dua jam setelah pertandingan,” kata Manajer Tim Madura FC, Januar Herwanto, dalam siaran persnya, Senin (16/7/2018).

Baca : Madura FC Robek Jala Kiper Martapura FC Lebih Awal, Skor Akhir 4-2

Ia menjelaskan, secara legal formal sudah dipenuhi, yakni keberatan atas jalannya pertandingan disampaikan pada pukul 17.60 WITA dan nota protes itu sudah dikirim tanggal 15 Juli 2018, pukul 20.14 WITA, berikut lampirannya, berupa fakta-fakta selama berlangsungnya pertandingan.

Bentuk dan fakta-fakta dugaan kecurangan, keperpihakan atau tindakan yang seharusnya tidak terjadi di dunia persepakbolaan tanah air, sehingga dirasa tidak ada orang pengadil atau wasit di lapangan, antara lain ;

1. Saat pertandingan berjalan 23 menit, Djoko Prayitno, pemain Madura FC bernomor punggung 60 merasa diinjak belakang kepalanya oleh pemain Martapura FC. Ketika itu, sang Kapten Madura FC Beny Ashar bernomor punggung 7 berusaha meluruskan peristiwa yang terjadi, malah diganjar kartu kuning oleh wasit.

2. Terjadinya gol Martapura FC pada menit 30 dinilai kontroversial, karena pemain belakang Madura FC tidak melakukan dorongan terhadap pemain Martapura FC yang mengakibatkan pemain Martapura FC terjatuh. Faktanya, pemain Martapura FC melakukan diving, tetapi wasit langsung memberi hadiah penelti pada Martapura FC, sehingga kedudukan menjadi 1-1.

3. Manajemen Madura FC menilai, wasit tidak menjadi pengadil lapangan, melainkan menjadi pemain kedua dari kesebelasan tuan rumah. Terbukti, wasit sangat mudah memberikan kartu kuning pada pemain Madura FC tetapi tidak bagi tim tuan rumah ketika melakukan pelanggaran.

4. Pada menit 63, pemain Martapura FC Faris Aditama diduga mencekik leher sang Kapten Madura FC Banny Ashar. Dan Bany berusaha melakukan pembelaan, sehingga terjadi keributan. Lagi-lagi, wasit mengeluarkan kartu merah. Sedangkan Faris Aditama dengan nomor punggung 13, hanya mendapat kartu kuning.

5. Wasit sang pengadil lapangan diduga memberi perintah pada pemain Martapura FC, bernomor punggung 16, Qischil G Minny, untuk melakukan diving di titik penalti. Perintah ini didengar oleh salah satu pemain Madura FC. Dan hadiah penalti pun diberikan pada menit ke 30 untuk Martapura FC.

Menurut Januar Herwanto, cara-cara tersebut adalah bentuk pembunuhan karakter bagi pemain sepak bola tanah air. “Lalu, kapan dunia sepak bola kita akan maju seperti negara lain bila prilaku sang wasit tidak bermartabat,” tandasnya.

“Bila wasit seperti ini tidak dibina secara mental dan moral, tukang becak pun bisa bermain di tengah lapangan. Kita hanya berdoa semoga wasit seperti ini diselamatkan hidupnya,” sambungnya.

Januar Herwanto mengungkapkan, kekalahan sebagaimana kemenangan merupakan hal yang pasti terjadi dalam sebuah pertandingan.

“Kami menyadari itu. Jangan berkompetisi, kalau tidak ingin kalah, meskipun siapa pun pasti akan menargetkan menang. Namun, kekalahan yang kami alami ketika melawan Martapura FC, karena kami disakiti oleh kepemimpinan wasit,” tandasnya.

Kalah itu memang menyakitkan bagi siapa pun dalam sebuah kompetisi. Tapi, disakiti merupakan hal beda, sehingga pihaknya merasa perlu untuk melakukan perlawanan sesuai regulasi persepakbolaan tanah air.

“Dan perlawanan itu sudah kami lakukan dalam bentuk nota protes terhadap kepemimpinan wasit melalui pengawas pertandingan atau match commisioner dalam laga tersebut,” jelasnya.

Pengajuan nota protes tersebut, diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama, terutama oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator Liga 2 Indonesia 2018, sehingga peristiwa serupa tidak menimpa tim lain.

Pihaknya menilai, kualitas Liga 2 Indonesia 2018 dan kompetisi olahraga lainnya di tanah air, tidak hanya ditentukan oleh pemain, pelatih, termasuk manajemen tim, akan tetapi wasit dan perangkat pertandingan dan operator memiliki peran penting untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan kualitas.

“Semua elemen harus memiliki komitmen dan bersinergi untuk mendorong peningkatan kualitas kompetisi. Kasihan pemain yang sudah dilatih keras oleh tim pelatih, kalau pada akhirnya disakiti oleh wasit,” tandasnya.

Di sisi lain, pihaknya minta para pemain Madura FC tetap fokus untuk menghadapi laga-laga lanjutan dalam Liga 2 Indonesia 2018 dan tidak terpengaruh dengan hal-hal lainnya. Sebab, jalan masih panjang.

“Kami sebagai perwakilan manajemen tim hanya melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan dan tentunya, sekali lagi, sesuai aturan main atau regulasi,” ucapnya.

Pihaknya juga meminta ke para suporter tidak terpengaruh dengan hal-hal lain di luar lapangan. Fokuslah mendoakan dan mendukung Madura FC agar selalu meraih hasil maksimal dalam setiap laga.

“Jadilah suporter yang bijaksana. Menang, seri, dan kalah adalah hal dan bagian tak terpisahkan dalam sebuah pertandingan. Terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini,” katanya.

Januar Herwanto juga tetap akan menjunjung tinggi falsafah hidup orang Madura, “Lebbih bagus pote tolang etembang pote mata (Lebih baik putih tulang ketimbang putih mata)” (kurang lebih makna yang tersirat, lebih baik mati dari pada kehilangan martabat, red). (Hartono)