oleh

Menurut Islam Ini 3 Pengertian Takdir

PortalMadura.Com – Takdir (Arab: قدر, qodar) merupakan ketentuan suatu peristiwa yang terjadi karena pilihan makhluk itu sendiri, baik maupun buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang.

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.

Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Jumat (17/1/2020) dari laman republika.co.id yang dikutip dari beberapa sumber. Berikut beberapa definisi takdir dalam Islam:

Definisi Alquran

Takdir dalam Alquran terdapat dalam Alquran Surah Al Anam ayat 96, Surah Al Furqan ayat 2, Surah Yasin ayat 38, dan Surah Fussilat ayat 12. Keseluruhan ayat tersebut terdapat tiga kesimpulan.

1. Takdir berlaku untuk fenomena alam, artinya hukum dan ketentuan dari Tuhan mengikat perilaku alam sehingga hukum sebab akibat yang terjadi di alam ini dapat dipahami manusia.

2. Takdir Tuhan terkait hukum sosial (sunnatullah). Hukum ini melibatkan manusia di dalamnya.

3. Akibat dari takdir dalam arti hukum kepastian Allah yang baru diketahui setalah berada di akhirat.

Takdir yang seperti ini yang harus diyakini dengan keimanan. Selama manusia masih di dunia, dampaknya belum bisa dibuktikan hanya melalui Alquran, manusia membayangkannya saja. Inilah yang disebut qadarullah, nasib manusia yang ditentukan oleh perbuatannya selama di dunia.

Baca Juga: Maskot Pemilihan Bupati, KPU Sumenep Gunakan Burung Kakak Tua Jambul Kuning

Definisi Teologi Islam

Dalam teologi Islam, Tuhan berkehendak mutlak. Allah yang menciptakan alam, termasuk manusia. Karena itu, kebebasan manusia sangat kecil di hadapan Tuhan.

Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak bisa diubah. Manusia secara fisik tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti hukum alam.

Tetapi manusia memiliki daya kreatif. Inilah yang menyebabkan manusia bebas berpikiran dan berkehendak.

Kehidupan manusia, menurut teologi Asy’ariah, merupakan realisasi dari apa yang digariskan Tuhan pada saat azali, baik kehidupan yang baik ataupun yang buruk, beruntung atau merugi, dan senang atau menderita. Manusia akan menjalani semua ini sejak lahir sampai mati.

Takdir Bukan Sekadar Pasrah

Takdir tidak sama dengan menerima nasib secara pasrah, dalam arti tidak mau berusaha sama sekali. Doktrin tentang takdir dalam Islam tidak mengarahkan manusia ke sikap fatalistik atau menyerah kalah kepada nasib (fate).

Islam sangat menekankan pentingnya usaha dan amal perbuatan. Dalam Alquran dinyatakan manusia tidak akan mendapatkan sesuatu selain yang dia usahakan, dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal sesuai Surah An Najm ayat 39-41.

Ayat inl sering dijadikan nujukan pandangan bahwa makna takdir harus diletakkan secara proporsional. Bertopang dagu sambil menerima nasib merupakan salah satu gejala fatalistik. Wallahu A’lam.

Rewriter: Desy Wulandari
Sumber : republika.co.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE