oleh

Ngaku Ahli Ibadah Tapi Masih Menyembah Hawa Nafsu Diri Sendiri? Waspadalah Sobat Muslim! Ini Penjelasannya dalam Islam

PortalMadura.Com – Ibadah kepada Allah SWT merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap umat muslim di dunia ini. Tak dapat dipungkiri memang, bahwasanya setiap kadar atau tingkat keimanan seseorang itu tidak ada yang sama. Hal yang sebenarnya wajar karena kita hanyalah manusia biasa tempatnya salah dan dosa, kadang melakukannya dengan sengaja atau tidak sengaja. Namun bukan berarti ungkapan tadi menjadi alasan kita untuk bermalas-malasan dan tidak beribadah kepada Allah. Justru karena kita manusia biasa dan tidak ada kesempurnaan dalam diri kita, dengan ibadah Insya Allah akan tutupi segala aib dan kekurangan kita sebagai manusia.

Manusia bukanlah makhluk yang penuh dosa. Mau ia seorang ahli ibadah atau bahkan yang tidak mengenal ibadah pun jika berbicara soal nafsu dan kepuasan diri siapa yang dapat menahannya jika iman kita tak benar-benar kuat?

Maka dari itu, bagi kalian yang menganggap diri sudah baik dan sudah menjadi ahli ibadah namun masih kerap menyembah dan menuruti nafsu diri sendiri, apakah masih patut untuk disebut ahli ibadah? Mari kita bahas bersama.

Dari Ali Bin Abi Thalib Ra. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya.”

Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik.

Mereka suka membaca alquran akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat ( murtad ) dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika zaman Nabi SAW. kelompok di atas disebut dengan Khawarij, maka pada zaman sekarang ini walaupun nama khawarij sudah tidak ada, tapi model dan kelakuan mereka masih ada dan sama dengan khawarij nama kelompoknya saja yang berbeda.

Ciri-ciri mereka adalah gampang menyesatkan orang lain, lalu mudah mengkafirkan orang lain. Dengan begitu mereka tanpa merasa bersalah membunuh orang lain. Paham inilah yang menjadi dasar para kelompok radikal.

Dengan menggunakan atribut Islam, mengklaim pembela agama Islam tapi justru mereka merusak agama Islam dan perbuatan mereka justru bertentangan dengan Islam. Itulah jiwa-jiwa yang gelap yang memperalat dan merusak nama baik agama Islam.

Maka dari itu, kesimpulan yang dapat kita tarik adalah, sebaik apapun kita dalam beribadah tapi masih mengagungkan atau memanjakan nafsu kita,sebaiknya janganlah mencap diri kita sendiri sebagai ahli ibadah. Karena yang tahu ibadah kita diterima atau tidak itu hanya Allah yang berhak menentukan. Jadi jangan semerta-merta mengklaim dirimu sebagai ahli ibadah jika masih memiliki sifat tersebut. Contohlah padi, yang semakin tinggi semakin merunduk. Jadilah manusia yang semakin tinggi ilmunya, maka merendah dan merunduklah engkau, karena sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai hamba-hambanya yang sombong. Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam.


Rewriter : Agnes Hafilda Kusuma
Sumber : bincangsyariah.com

Komentar