oleh

Perilaku Janggal Pelaku Penyerangan Polsek Wonokromo Pernah Dilakukan di Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Terduga teroris Imam Musthofa (30) yang melakukan aksi penyerangan di Mapolsek Wonokromo, Surabaya, Sabtu sore (17/8/2019) ternyata pernah melakukan sikap aneh saat pulang kampung ke Sumenep, Madura.

Perilaku yang dinilainya janggal dan tidak sepatutnya dilakukan Imam Musthofa yang notabene pernah mendalami ilmu agama di sebuah pondok pesantren modern di Sumenep dilakukan saat pergi ke kota Sumenep.

Kala itu, Imam Musthofa mengantarkan orang tuanya yang akan pergi untuk menunaikan ibadah haji.

Kedua orang tua pelaku, Mudahnan dan Pusiyah tergabung pada jemaah haji asal Sumenep, Madura melalui kuota tambahan jemaah haji 2019.

Perilaku janggal itu diketahui mantan Kepala Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Sumenep, Abdul Hadi.

“Dia (Imam Musthofa) naik motor. Saat di kota malah menerobos lampu merah, sambil bilang … apa polisi …,” kata Abdul Hadi yang masa jabatan kepala desanya berakhir 31 Juni 2019.

Dalam perbincangannya dengan PortalMadura.Com, Minggu siang (18/8/2019) di rumahnya, Abdul Hadi mengaku tidak mengerti apa yang dimaksud Imam Musthofa saat kejadian.

Dalam benak Abdul Hadi hanya heran dengan tindakan yang tidak benar tersebut. Padahal, saat itu kedua orang tuanya diantar banyak orang dengan menggunakan mobil.

Bahkan, Imam Musthofa juga menolak ikut rombongan pengantar jemaah calon haji. Ada sekitar 10 mobil yang ikut mengantarkan kedua orang tuanya ke kota Sumenep.

“Ia (Imam Musthofa) memilih naik motor dan menerobos lampu merah,” cerita Abdul Hadi tanpa menyebutkan posisi traffic light di kota Sumenep.

Selebihnya, ia tidak mengetahui perilaku Imam Musthofa. Dirinya hanya mengetahui kepulangan Imam Musthofa ke rumah orang tuanya yakni tiga sampai empat kali.

“Sebatas tahu saja kalau dia (Imam Musthofa) pulang. Dia tidak pernah bergabung dengan warga lain,” jelasnya.

Rumah orang tua, Imam Musthofa di Dusun Karang Jati, RT 1/ RW 4, Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Sumenep. Saat pulang kampung, Imam Musthofa tetap numpang ke rumah orang tuanya. (@portalmadura.com)
Rumah orang tua, Imam Musthofa di Dusun Karang Jati, RT 1/ RW 4, Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Sumenep. Saat pulang kampung, Imam Musthofa tetap numpang ke rumah orang tuanya. (@portalmadura.com)

Sementara, kakak sepupu pelaku, Hairi (40) menceritakan, Imam Musthofa jarang pulang kampung. Ia mengunjungi orang tuanya saat lebaran.

Loading...

“Terakhir, ya saat ibu dan bapaknya mau berangkat haji,” katanya.

Saat pulang kampung, Imam Musthofa tetap menumpang di rumah orang tuanya, di Dusun Karang Jati, RT 1/ RW 4, Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Sumenep. Itupun tidak lama, hanya tiga hari.

“Saat pulang, menempati rumah yang paling barat ini,” ujar Hairi pada PortalMadura.Com, sambil menunjukkan rumah orang tua Imam Musthofa.

Pantauan PortalMadura.Com, satu rumah yang berdampingan dengan rumah yang ditempati Imam Musthofa saat pulang, juga milik orang tuanya.

Namun, kondisinya masih belum ada pintu dan tidak ditempati. Rumah tersebut hasil kerja kedua orang tuanya yang proses pembangunannya lebih banyak dikerjakan sendiri oleh bapak Imam Musthofa.

Sebelumnya, Imam Musthofa tiba-tiba masuk ruang SPKT Polsek Wonokromo pukul 16.45 WIB, Sabtu sore (17/8/2019).

Pelaku diterima petugas jaga Aiptu Agus Sumarsono karena mengaku hendak membuat laporan.

Saat polisi menyiapkan berkas laporan, pelaku tiba-tiba menyerang menggunakan senjata tajam.

Saat ini, pelaku diperiksa tim Densus 88. Istri dan tiga anak pelaku juga dijemput polisi dari rumah kosnya.

Selama ini, pelaku menempati sebuah kos di permukiman padat penduduk di Jalan Sidosermo IV Gang 1, Nomor 10A Surabaya.

Aksi pelaku disebut-sebut berkaitan dengan ISIS, karena barang bukti yang diamankan polisi, ditemukan lambang ISIS.

Polisi juga mengamankan barang bukti lain, berupa sajam, celurit, ketapel, anak ketapel, dan air soft gun.(*)

Baca Juga :


Penulis : Hartono
Editor : Hartono

Komentar