PortalMadura.com – Kabar duka menyelimuti korps Tentara Nasional Indonesia (TNI). Seorang prajurit terbaik, Farizal Rhomadhon, dilaporkan gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB di Lebanon Selatan, Minggu (29/3/2026). Insiden tragis ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan baku tembak sengit di wilayah perbatasan.
Farizal mengembuskan napas terakhir di sektor Indobatt yang berlokasi dekat Desa Adchit Al Qusayr. Serangan artileri tidak langsung yang menghantam posisi kontingen Indonesia tersebut juga menyebabkan tiga personel TNI lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini memicu perhatian dunia terhadap urgensi dan risiko besar yang dihadapi oleh pasukan penjaga perdamaian.
Baca Juga: Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon, Pemerintah RI Segera Repatriasi Jenazah
Mengenal UNIFIL: Benteng Perdamaian di Lebanon
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) bukanlah organisasi baru. Misi ini dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB sejak Maret 1978 melalui Resolusi 425 dan 426. Kehadirannya merupakan respons atas konflik berkepanjangan di Lebanon Selatan yang berbatasan langsung dengan Israel.
Pada awalnya, UNIFIL memiliki tiga mandat utama:
- Memastikan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
- Memulihkan perdamaian dan keamanan internasional di kawasan tersebut.
- Membantu Pemerintah Lebanon memulihkan otoritas efektifnya di wilayah selatan.
Namun, seiring dinamika politik yang memanas, terutama pasca-krisis besar tahun 2006, peran UNIFIL diperluas. Kini, mereka juga bertugas memantau penghentian permusuhan, mendukung penyebaran Angkatan Bersenjata Lebanon, hingga menjamin akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil yang terjebak konflik.
Kontribusi Besar Indonesia dalam Misi Global
Indonesia memegang peranan vital dalam misi ini. Berdasarkan data Januari 2026, Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang pasukan terbesar dengan mengirimkan 756 personel. Angka ini menempatkan Indonesia di jajaran atas bersama negara-negara seperti Italia (784 pasukan) dan Spanyol (660 pasukan).
Secara operasional, pasukan UNIFIL sangat aktif dengan rata-rata 14.500 kegiatan setiap bulan. Aktivitas ini meliputi:
- Patroli Intensif: Pengawasan darat dan laut untuk mencegah penyelundupan senjata ilegal.
- Maritime Task Force: Pengamanan perairan Lebanon menggunakan lima kapal perang khusus.
- Koordinasi Keamanan: Bekerja sama dengan militer lokal untuk menjaga stabilitas wilayah.
Meskipun didukung anggaran besar—mencapai 510 juta dolar AS per periode tahunan—risiko di lapangan tetaplah nyata. Gugurnya prajurit TNI di garis depan menjadi pengingat keras bahwa menjaga perdamaian seringkali menuntut pengorbanan tertinggi.
“Kehadiran TNI di Lebanon bukan sekadar tugas militer, melainkan mandat kemanusiaan untuk menciptakan kondisi stabil bagi pengungsi agar bisa kembali ke rumah mereka dengan martabat.”
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus mengecam serangan yang menargetkan pasukan perdamaian dan mendesak investigasi menyeluruh atas insiden yang menewaskan prajurit Farizal Rhomadhon.





