PORTALMADURA.COM, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertahan di zona merah pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Mata uang Garuda terpantau melemah ke kisaran Rp17.890 per dolar AS akibat dorongan sentimen global dan penguatan dolar AS di pasar valuta asing.
Berdasarkan data perdagangan pasar valas harian, rupiah terkoreksi sebesar 0,14 persen atau turun sekitar 25 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan berjalan, rupiah bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.857 hingga menyentuh level terlemahnya di Rp17.891 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah hari ini dipicu oleh meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz memicu kenaikan harga komoditas minyak bumi sekaligus mendorong investor mengalihkan dananya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Di samping faktor geopolitik, para pelaku pasar keuangan domestik maupun global saat ini mengambil sikap cermat (wait and see) menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat. Data inflasi ini menjadi indikator penting bagi The Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.
Daftar Kurs Dolar AS di Bank Konvensional Per 13 Agustus 2026
Bagi Anda yang berencana melakukan transaksi penukaran valuta asing, berikut ringkasan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di sejumlah bank terkemuka sebagaimana dihimpun oleh portalmadura.com:
- Bank Central Asia (BCA):
- e-Rate / TT Counter Beli: Rp17.859,00
- e-Rate / TT Counter Jual: Rp17.879,00
- Bank Notes Beli: Rp17.670,00 | Jual: Rp17.950,00
- Bank Mandiri:
- Special Rate Beli: Rp17.860,00
- Special Rate Jual: Rp17.890,00
- Bank Notes Beli: Rp17.640,00 | Jual: Rp17.940,00
- Bank Negara Indonesia (BNI):
- Special Rate Beli: Rp17.860,00
- Special Rate Jual: Rp17.890,00
- Bank Notes Beli: Rp17.725,00 | Jual: Rp18.025,00
Analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi tertahan dan berkonsolidasi di rentang Rp17.850 hingga Rp17.920 per dolar AS selama isu inflasi AS dan dinamika geopolitik global belum mereda. (PortalMadura.com)





