Saham BBCA Ambruk ke Level Terendah Sejak 2021: Asing ‘Buang Barang’, Masih Aman Dikoleksi?

Avatar of PortalMadura.com
Saham BBCA Ambruk ke Level Terendah Sejak 2021: Asing ‘Buang Barang’, Masih Aman Dikoleksi?
Saham BBCA Ambruk ke Level Terendah Sejak 2021: Asing ‘Buang Barang’, Masih Aman Dikoleksi?

Jakarta, PortalMadura.com – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menjadi sorotan pasar modal setelah mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Pada perdagangan Senin (27/4/2026), emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia ini sempat menyentuh level harga terendah sejak tahun 2021.

Data perdagangan mencatat harga saham BBCA sempat meluncur ke level Rp5.950 per lembar. Meski sempat mengalami fluktuasi tipis di kisaran Rp6.000, secara akumulatif (year to date), nilai saham BBCA telah terkoreksi signifikan hingga 25 persen sepanjang tahun ini.


Penyebab Utama: Tekanan Global dan Aksi Jual Asing

Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) yang mencapai angka fantastis, yakni Rp2,1 triliun dalam satu hari perdagangan pada akhir pekan lalu. Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menilai fenomena ini bukan merupakan masalah spesifik pada internal BCA, melainkan tekanan sektoral yang melanda perbankan besar (Big Caps).

Menurut Jonathan, ada beberapa faktor makro yang membuat investor asing melakukan penyesuaian portofolio:

  • Ketidakpastian Geopolitik: Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel memicu kekhawatiran kenaikan harga energi dunia.
  • Sentimen Makro: Investor cenderung menghindari risiko di pasar berkembang (emerging markets) termasuk Indonesia.
  • Evaluasi Indeks: Adanya peninjauan ulang outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta evaluasi dari MSCI.

“Bank adalah jantung ekonomi. Jika prospek ekonomi makro terlihat menantang, sektor perbankan biasanya menjadi yang pertama kali merespons,” ujar Jonathan, Senin (27/4).

Fundamental Tetap Kokoh di Kuartal I-2026

Menariknya, meskipun harga saham di pasar terus tergerus, kinerja keuangan BBCA justru tetap menunjukkan taji. Pada kuartal pertama 2026, BCA berhasil membukukan laba bersih senilai Rp14,7 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan (year-on-year).

Kualitas aset perusahaan juga terpantau stabil berkat perbaikan di segmen korporasi (wholesale) yang mampu mengompensasi tantangan di segmen ritel dan konsumer. Penyaluran kredit BCA tetap tumbuh 6 persen, ditopang kuat oleh sektor korporasi.

Rekomendasi Analis: Peluang di Balik Koreksi?

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, dalam risetnya menyebutkan bahwa valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historisnya. Artinya, harga saat ini dinilai sudah cukup murah (undervalued) mengingat fundamental perusahaan yang masih sangat sehat.

BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi BELI untuk saham BBCA dengan target harga jangka panjang di level Rp10.900 per lembar saham.

Dengan target pertumbuhan kredit 8-10 persen di tahun 2026 serta kebijakan dividen interim yang rutin, saham BBCA dinilai masih memiliki daya tarik bagi investor yang mengutamakan ketahanan aset jangka panjang di tengah badai ekonomi global.

Laporan ini disusun oleh tim portalmadura.com berdasarkan data perdagangan dan riset pasar terkini per April 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses