PortalMadura.com–Harga emas mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin (22/12/2025), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Melansir Bloomberg, harga emas di pasar spot naik 1,1% menjadi US$4.386,32 per ons, melampaui rekor sebelumnya di US$4.381 per ons yang tercatat pada Oktober 2025.
Dua Pemicu Utama: Geopolitik dan Suku Bunga
Kenaikan tajam ini terjadi di tengah spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dua kali pada 2026. Meski data ekonomi AS pekan lalu masih ambigu, Presiden Donald Trump kembali mendesak kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Kebijakan suku bunga rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga—sehingga menjadi pilihan menarik saat imbal hasil aset berbunga turun.
Di sisi geopolitik, ketegangan semakin memanas:
- Amerika Serikat memperketat blokade minyak terhadap Venezuela.
- Ukraina untuk pertama kalinya menyerang kapal tanker minyak dari “armada bayangan” Rusia di Laut Mediterania.
Situasi ini memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Permintaan Kuat dari Bank Sentral dan ETF
Emas dan perak kini menuju kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Sepanjang 2025, harga emas melonjak hampir dua pertiga, didukung oleh:
- Pembelian agresif bank sentral global
- Arus masuk dana lima pekan berturut-turut ke ETF berbasis emas
Menurut World Gold Council, kepemilikan emas dalam ETF meningkat setiap bulan sepanjang 2025, kecuali pada Mei.
Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$4.900 per ons pada 2026. Bank ini mencatat bahwa investor ETF kini bersaing langsung dengan bank sentral dalam memburu pasokan emas fisik yang terbatas.
“Pembelian bank sentral, permintaan fisik, dan lindung nilai geopolitik tetap menjadi jangkar jangka menengah hingga panjang,” kata Dilin Wu, analis dari Pepperstone Group Ltd. Ia menambahkan, pelaku baru seperti penerbit stablecoin—termasuk Tether—mulai mengalokasikan cadangan dalam emas, memperluas basis permintaan.
Perak dan Platinum Ikut Melesat
Tak hanya emas, logam mulia lain juga melonjak:
- Perak naik 2,7% ke US$68,99 per ons—rekor baru—didorong short squeeze bersejarah pada Oktober dan gangguan pasokan.
- Platinum menguat delapan hari berturut-turut, diperdagangkan di atas US$2.000 per ons untuk pertama kalinya sejak 2008. Harga logam ini sudah melonjak 125% sepanjang 2025, didukung pengetatan pasokan di London dan permintaan kuat dari China, termasuk perdagangan kontrak baru di Guangzhou Futures Exchange.
Dengan kombinasi sentimen moneter, geopolitik, dan permintaan fisik yang solid, emas dan logam mulia diproyeksikan tetap menjadi aset utama dalam strategi diversifikasi investasi global hingga 2026.
Ikuti terus berita terbaru kami melalui saluran resmi berikut:




