PortalMadura.com–Isu bahwa “satu hari di Bumi akan menjadi 25 jam” kembali viral di media sosial, memicu kekhawatiran sekaligus rasa penasaran publik. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini bukan ancaman jangka pendek—melainkan proses alamiah yang berlangsung sangat lambat, dalam skala ratusan juta tahun.
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa Bumi memang perlahan-lahan melambat dalam rotasinya. Penyebab utamanya adalah gesekan pasang surut akibat tarikan gravitasi Bulan terhadap lautan Bumi. Gaya ini menciptakan semacam “rem alami” yang secara bertahap mengurangi kecepatan putaran planet kita.
Namun, efeknya sangat kecil: panjang satu hari hanya bertambah sekitar 1,7 hingga 2 milidetik per abad, menurut data pengukuran geofisika modern. Artinya, dibutuhkan sekitar 180 juta tahun untuk menambah satu jam penuh ke durasi harian—dari 24 jam menjadi 25 jam.
Baca Juga:
Korban Banjir & Longsor di Sumatera Capai 1.141 Jiwa, Sherly Desak Pelaku Teror Hentikan Aksi
“Ini adalah proses geologis, bukan perubahan yang akan kita rasakan dalam hidup kita, atau bahkan dalam peradaban manusia,” jelas seorang peneliti astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dikutip dalam diskusi ilmiah akhir 2025.
Secara teknis, satu putaran penuh Bumi relatif terhadap bintang (disebut sidereal day) berlangsung 23 jam 56 menit 4 detik. Namun, sistem waktu manusia mengacu pada posisi Matahari—yang membutuhkan tambahan waktu sekitar 4 menit karena Bumi juga bergerak dalam orbitnya. Maka, rata-rata satu hari surya dibulatkan menjadi 24 jam.
Perlu dicatat, durasi harian Bumi memang tidak sepenuhnya konstan. Faktor seperti gempa bumi besar, pencairan es di kutub, atau dinamika di inti Bumi bisa menyebabkan fluktuasi dalam skala milidetik. Namun, perubahan semacam ini tidak memengaruhi jam dinding, jadwal kerja, atau sistem waktu global.
Isu “25 jam sehari” sebenarnya bukan hoaks, melainkan proyeksi jangka panjang berdasarkan pemahaman ilmiah yang valid. Hanya saja, narasi tersebut sering disalahpahami atau disajikan tanpa konteks waktu yang tepat, sehingga menimbulkan kesan dramatis.
Bagi masyarakat umum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Satu hari tetap 24 jam, dan akan tetap demikian selama ribuan—bahkan jutaan—generasi ke depan. Sementara itu, para ilmuwan terus memantau rotasi Bumi menggunakan teknologi seperti Very Long Baseline Interferometry (VLBI) dan satelit presisi tinggi untuk menjaga akurasi sistem waktu global.
Dengan demikian, klaim tentang hari 25 jam memang berbasis sains—tapi bukan sesuatu yang akan terjadi dalam hidup kita, melainkan warisan Bumi untuk masa depan yang sangat jauh.





