Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$119: Rupiah Tertekan Hebat

Avatar of PortalMadura.com
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$119: Rupiah Tertekan Hebat
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$119: Rupiah Tertekan Hebat

PortalMadura.com – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga melampaui level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Eskalasi konflik militer di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang memaksa pasar energi global berada dalam kondisi volatilitas tinggi.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, minyak mentah jenis Brent kini bertengger di kisaran US$115 per barel, setelah sempat menyentuh angka US$119,50. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut meroket ke level US$113 hingga US$119 per barel. Kenaikan drastis sebesar 25% ini merupakan titik tertinggi sejak tahun 2022.

Blokade Selat Hormuz Jadi Ancaman Utama

Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan fisik. Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari lalu kini berdampak pada jalur distribusi energi vital.

Laporan intelijen pasar menunjukkan adanya penutupan de facto di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang melayani sekitar 20% konsumsi minyak global atau setara 20 juta barel per hari. Tak hanya itu, serangan drone yang menyasar fasilitas produksi di Qatar serta penghentian operasional kilang Ras Tanura di Arab Saudi kian memperburuk sentimen pasar.

Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia

Melambungnya harga minyak mentah mulai memukul perekonomian domestik. Nilai tukar Rupiah terpantau melemah signifikan hingga menembus angka Rp17.150 per Dolar AS pada hari ini. Tekanan ini memberikan beban berat pada APBN 2026, terutama terkait alokasi subsidi energi.

Pemerintah Indonesia kini mulai mengkaji kemungkinan penyesuaian harga BBM jika harga minyak mentah terus bertahan di atas asumsi makro dalam jangka panjang. Meski OPEC+ telah sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April, para analis menilai langkah tersebut belum cukup menambal kehilangan pasokan harian yang mencapai jutaan barel.

Prediksi Analis: Potensi US$150 Per Barel

Lembaga riset Rystad Energy memperingatkan bahwa jika blokade di Selat Hormuz berlanjut hingga beberapa pekan ke depan, harga minyak bisa melesat hingga US$150 per barel. Dalam skenario terburuk, jika terjadi hambatan total, harga diprediksi mampu menyentuh angka ekstrem US$215 per barel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses