PortalMadura.com – Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Iran mulai memakan korban ekonomi di luar zona perang. India, sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Asia, kini menghadapi ancaman penutupan massal jutaan unit usaha kuliner akibat krisis pasokan gas minyak cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Gangguan rantai pasok global ini dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz, jalur nadi perdagangan dunia yang menjadi rute utama impor energi India. Akibatnya, stok LPG nasional menipis dan memaksa pemerintah mengambil kebijakan prioritas yang pahit bagi sektor komersial.
Prioritas Rumah Tangga, Sektor Bisnis Terpinggirkan
Pada Selasa (10/3/2026), Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India secara resmi menginstruksikan kilang minyak untuk memprioritaskan stok LPG bagi 330 juta rumah tangga. Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas domestik, mengingat LPG adalah bahan bakar memasak utama masyarakat India.
Namun, kebijakan ini berdampak fatal bagi lebih dari 3 juta pelaku usaha yang mengandalkan tabung LPG komersial. Pemerintah menegaskan bahwa sisa pasokan hanya akan dialokasikan untuk fasilitas esensial seperti:
- Rumah Sakit
- Lembaga Pendidikan
- Fasilitas Publik Utama
Sementara itu, industri hiburan dan makanan berada di urutan terbawah dalam daftar distribusi gas alam cair impor tersebut.
Industri Kuliner di Ambang Kehancuran
Presiden Asosiasi Restoran Nasional India (NRAI), Sagar Daryani, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan industri yang menyerap 8 juta tenaga kerja ini. Menurutnya, sekitar 90% dapur restoran di India bergantung sepenuhnya pada LPG.
“Industri kami sudah tertekan biaya operasional yang tinggi. Jika pasokan gas diputus, penutupan bisnis dan PHK massal tidak akan terelakkan dalam hitungan hari,” ujar Daryani sebagaimana dikutip dari CNBC International, Rabu (11/3/2026).
Data menunjukkan betapa rentannya posisi India. Sebagai importir LPG terbesar kedua di dunia, India hanya mampu memproduksi 41% kebutuhan domestiknya. Sisanya, sekitar 67% hingga 90% kebutuhan LPG, harus melewati Selat Hormuz yang kini menjadi zona merah konflik.
Gelombang Penutupan di Berbagai Wilayah
Dampak nyata mulai terlihat di lapangan. Di Chennai, sekitar 10.000 tempat usaha diprediksi akan berhenti beroperasi mulai Rabu ini. Kelompok lobi hotel dan restoran di Mumbai (AHAR) juga melaporkan bahwa banyak anggotanya sudah berada di titik nadir kebangkrutan.
Para distributor gas telah menerima instruksi tegas untuk menghentikan penyaluran ke sektor komersial. Chandra Prakash, Presiden Federasi Distributor LPG Seluruh India, menyarankan para pengusaha untuk mulai mencari alternatif bahan bakar lain.
“Restoran harus mulai beralih ke kompor listrik, kayu bakar, atau minyak tanah demi mempertahankan operasional mereka,” tutup Prakash.
Sentimen Politik di Tahun Pemilu
Krisis LPG ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan isu politik yang sangat sensitif. Subsidi gas merupakan program kesejahteraan andalan Perdana Menteri Narendra Modi. Dengan jadwal pemilihan umum di lima negara bagian pada paruh pertama 2026, kelangkaan energi ini diprediksi akan menjadi komoditas politik yang panas.
Hingga saat ini, pelaku usaha kuliner masih mendesak pemerintah agar menetapkan industri restoran sebagai layanan esensial guna mendapatkan jaminan energi di tengah ketidakpastian perang.





