PortalMadura.com – Harga emas dunia kini berada di bawah bayang-bayang koreksi tajam. Menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pekan depan, harga logam mulia ini diprediksi terancam merosot hingga ke level US$ 4.900 per ons troi akibat penguatan dolar AS dan krisis likuiditas global.
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (13/3/2026), harga emas ditutup anjlok 1,2% ke level US$ 5.019,25 per ons troi. Penurunan ini mencatatkan pelemahan sebesar 2,5% dalam sepekan terakhir, sekaligus menjadi tren negatif selama dua minggu berturut-turut. Kondisi serupa menimpa perak yang merosot tajam 3,88% ke posisi US$ 80,59 per ons.
Dominasi Dolar AS di Tengah Konflik Geopolitik
Padahal, banyak pelaku pasar sebelumnya memprediksi emas akan terbang tinggi sebagai aset aman (safe haven) menyusul memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya keterlibatan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun, realita pasar berkata lain.
Alih-alih memborong emas, para investor justru berebut memegang dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia untuk menjaga likuiditas mereka. Hal ini dikonfirmasi oleh Christopher Vecchio, Kepala Strategi Futures dan Forex di Tastylive.
“Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti sekarang, investor lebih membutuhkan likuiditas dari mata uang cadangan dunia, yaitu dolar AS,” ungkap Vecchio sebagaimana dikutip dari Kitco, Sabtu (14/3/2026).
Ia menambahkan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang kembali menembus angka 4% menjadi indikator kuat bahwa permintaan terhadap emas belum pulih sepenuhnya. Menurutnya, harga emas mungkin akan bergerak stabil terlebih dahulu sebelum kembali menemukan momentum penguatan.
Analisis Teknikal: Target Penurunan ke US$ 4.900
Senada dengan pandangan tersebut, Analis Senior FXTM Lukman Otunuga menilai bahwa pengujian level psikologis US$ 5.000 bukan hal yang mengejutkan. Secara teknikal, pergerakan emas masih berada di bawah tekanan selama harganya bertahan di bawah US$ 5.100.
“Target penurunan berikutnya berada di kisaran US$ 5.000 hingga US$ 4.900,” jelas Otunuga.
Tekanan terhadap emas semakin diperberat oleh berubahnya ekspektasi pasar terhadap suku bunga. Saat ini, peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 hanya berkisar 80%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang berisiko memicu inflasi tinggi atau kondisi stagflasi.
Lihat Juga: Apakah Anda berencana mengoleksi emas batangan? Pastikan untuk memantau pergerakan kurs dolar AS dan kebijakan suku bunga terbaru agar investasi Anda tetap optimal.





