portalmadura.com – Pemulihan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan sinyal positif pada perdagangan pekan ini. Aset kripto terbesar di dunia tersebut perlahan merangkak naik dan bertahan di kisaran Rp1,37 miliar per koin. Namun, momentum kebangkitan ini harus berhadapan dengan gelombang aksi jual yang cukup masif dari para investor.
Berdasarkan data pasar terbaru hingga Jumat (22/5/2026), harga Bitcoin stabil di level 77.600 dollar AS atau setara dengan Rp1.371.003.487. Dalam waktu 24 jam terakhir, pergerakan harga BTC mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,23 persen, setelah sempat menyentuh titik terendah harian pada kisaran Rp1,36 miliar.
Titik Impas Investasi Picu Tekanan Jual
Kenaikan harga yang terjadi belakangan ini justru dimanfaatkan oleh sejumlah investor untuk mengurangi risiko kerugian dan mengamankan modal mereka. Laporan dari K33 Research mengungkapkan adanya lonjakan arus dana keluar (outflow) yang signifikan dari produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, nilai penarikan dana dari ETF Bitcoin spot menembus angka 1,7 miliar dollar AS atau berkisar Rp29,9 triliun. Fenomena aksi ambil untung (profit-taking) ini mencuat tepat ketika pergerakan grafik harga Bitcoin mulai mendekati level 83.000 dollar AS.
Analis dari K33 Research, Vetle Lunde, menilai bahwa level 83.000 dollar AS merupakan area krusial karena menjadi harga rata-rata pembelian awal para investor institusi atau titik impas (break-even point) investasi mereka. Ketika harga mendekati area tersebut, kecenderungan investor untuk menjual aset demi menghindari risiko penurunan lanjutan meningkat hingga 10 persen.
Sentimen Global dan Pergeseran Pasar Ritel
Selain aksi jual di instrumen ETF, pergerakan pasar kripto global pekan ini turut dipengaruhi oleh dinamika korporasi besar. Salah satunya adalah langkah Trump Media & Technology Group (TMTG) yang dilaporkan memindahkan sebanyak 2.650 Bitcoin senilai 205 juta dollar AS (sekitar Rp3,62 triliun) ke bursa kripto, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi tekanan jual tambahan.
Meskipun aliran dana dari investor institusi tampak melambat, gairah pasar justru datang dari sektor ritel. Di kala para pemain besar mengurangi porsi kepemilikan mereka, data on-chain menunjukkan investor ritel bergerak agresif dengan menambah kepemilikan aset mereka hingga belasan ribu token dalam beberapa waktu terakhir.
Saat ini, total kapitalisasi pasar Bitcoin bertengger di kisaran Rp27.504 triliun dengan volume perdagangan harian yang terus bergerak fluktuatif. Pelaku pasar kini tengah menantikan apakah Bitcoin mampu menembus area teknikal penting 200-day moving average untuk melanjutkan tren kenaikan jangka panjangnya.




