PortalMadura.com – Harga komoditas cabai di berbagai wilayah Indonesia mengalami kenaikan signifikan pada hari ini, Jumat, 30 Mei 2026, dengan cabai rawit merah menjadi jenis yang paling menonjol peningkatannya.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga cabai rawit merah secara rata-rata nasional mencapai Rp82.450 per kilogram di tingkat pedagang eceran.
Di sejumlah pasar, khususnya di wilayah tertentu seperti yang dipantau PERUMDA Pasar Pakuan Jaya, harga cabai rawit merah bahkan menyentuh angka Rp100.000 per kilogram, menunjukkan disparitas harga yang cukup lebar antar daerah.
Selain cabai rawit merah, jenis cabai lainnya juga mengalami tren kenaikan, meskipun dengan besaran yang bervariasi.
Cabai merah keriting tercatat berada pada kisaran Rp69.600 per kilogram, sementara cabai merah besar mencapai Rp73.050 per kilogram berdasarkan laporan terbaru.
Kemudian, cabai rawit hijau juga mengalami peningkatan harga hingga Rp53.300 per kilogram pada waktu yang sama, menambah daftar bahan pokok yang memberatkan pengeluaran rumah tangga.
Kenaikan harga ini telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir, dengan data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat lonjakan harga cabai rawit merah sebesar 12,12 persen pada minggu kedua Mei 2026.
Peningkatan tersebut membawa harga cabai rawit merah di ibu kota dari Rp71.664 menjadi Rp80.354 per kilogram, mengindikasikan tekanan pasar yang terus-menerus.
Komoditas cabai merah keriting juga mengalami kenaikan sekitar 5,61 persen, bergerak dari Rp52.117 menjadi Rp55.103 per kilogram pada periode yang sama.
Tren serupa terjadi pada cabai merah TW (Tanjung Wangi) yang naik 3,84 persen, mencapai Rp62.375 per kilogram, serta cabai rawit hijau yang meningkat 3,05 persen menjadi Rp59.939 per kilogram.
Analisis Penyebab Kenaikan Harga Cabai
Beberapa faktor utama berkontribusi terhadap melonjaknya harga cabai di pasaran saat ini, menciptakan situasi yang kompleks bagi konsumen dan pelaku usaha.
Salah satu pemicu utama adalah peningkatan permintaan yang signifikan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, di mana konsumsi masyarakat terhadap cabai cenderung naik drastis untuk berbagai masakan.
Faktor cuaca ekstrem, seperti intensitas hujan tinggi yang masih terjadi di beberapa sentra produksi, menjadi kendala serius bagi petani.
Hujan lebat tidak hanya merusak tanaman cabai dan membuatnya rentan terhadap hama serta penyakit seperti jamur dan virus, tetapi juga menghambat proses pemetikan.
Petani enggan memetik cabai saat hujan karena dapat mempercepat pembusukan dan menurunkan kualitas hasil panen, sehingga pasokan ke pasar berkurang secara drastis.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengonfirmasi bahwa produksi cabai secara nasional sebenarnya mencukupi, namun kendala utama ada pada proses pemetikan dan distribusi.
Keterbatasan tenaga kerja pemetik, terutama saat musim hujan atau libur nasional, semakin memperparah kondisi pasokan ke pasar induk.
Rantai distribusi cabai yang panjang dan kurang efisien juga turut menyebabkan disparitas harga yang signifikan antara tingkat produsen dan konsumen, seringkali diwarnai oleh biaya logistik yang tinggi.
Selain itu, kurangnya pasokan di daerah tertentu akibat keterlambatan pengiriman dapat menyebabkan kelangkaan dan secara langsung mendorong kenaikan harga.
Faktor lain seperti kenaikan harga pupuk dan teknologi pascapanen yang masih terbatas di tingkat petani juga memberikan kontribusi terhadap biaya produksi dan akhirnya berdampak pada harga jual.
Dampak dan Prospek Stabilitas Harga
Kenaikan harga cabai ini memiliki dampak langsung terhadap stabilitas inflasi pangan nasional, mengingat cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi yang penting.
Cabai dapat menyumbang sekitar 0,15 hingga 0,20 persen terhadap inflasi bulanan, menjadikan fluktuasi harganya selalu menjadi perhatian serius pemerintah.
Pemerintah melalui Bapanas secara aktif memantau kondisi ini dan menegaskan akan terus melakukan pengawasan bersama Satgas Pangan Polri untuk memastikan distribusi berjalan optimal serta tidak ada praktik penimbunan atau permainan harga oleh spekulan.
Meski demikian, Bapanas optimis bahwa perbaikan kondisi cuaca dan kembalinya aktivitas pemetikan dapat meningkatkan pasokan cabai dalam dua pekan ke depan, sehingga harga diharapkan dapat bergerak turun secara bertahap.
Langkah fasilitasi distribusi juga akan terus dilanjutkan oleh Bapanas, disesuaikan dengan permintaan dari pemerintah daerah setempat, guna menjaga agar harga di tingkat petani tetap wajar dan konsumen tidak terbebani terlalu tinggi.
Harapan akan stabilisasi harga ini sangat dinantikan oleh masyarakat luas yang sangat bergantung pada komoditas cabai sebagai bumbu dapur esensial.
Meskipun ada upaya untuk menekan harga, masyarakat diimbau untuk bijak dalam berbelanja dan mengikuti informasi harga dari sumber resmi.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencari solusi terbaik dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga caboditas cabai secara berkelanjutan.
Pengelolaan stok pangan nasional yang lebih baik serta perhatian terhadap petani kecil menjadi kunci untuk mencegah terulangnya fenomena kenaikan harga yang memberatkan ini di masa mendatang.





