Gejolak Harga Sawit: Petani Menjerit di Tengah Kebijakan Ekspor Baru dan Kenaikan Harga Referensi CPO

Avatar of PortalMadura.com
Harga Sawit Terkini: CPO Menguat Tipis, Petani Lokal Dihantam Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Harga Sawit Terkini: CPO Menguat Tipis, Petani Lokal Dihantam Kebijakan Ekspor Satu Pintu

PortalMadura.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di berbagai daerah sentra produksi Indonesia mengalami penurunan tajam pada akhir Mei 2026, memicu kekhawatiran di kalangan pekebun mandiri.

Penurunan drastis ini terjadi menyusul pengumuman kebijakan baru pemerintah terkait ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) yang menyebabkan ketidakpastian pasar.

Di sejumlah wilayah, harga TBS yang sebelumnya berkisar antara Rp3.500 hingga Rp3.700 per kilogram anjlok menjadi Rp2.500 hingga Rp2.700 per kilogram, bahkan pengepul di Kabupaten Bangka membeli dengan harga serendah Rp1.800 per kilogram.

Situasi ini kontras dengan tren kenaikan harga referensi minyak kelapa sawit mentah (CPO) global yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan untuk periode yang sama.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bahkan telah menegur 139 pabrik kelapa sawit (PKS) di berbagai wilayah karena secara sepihak menurunkan harga pembelian TBS, padahal permintaan produk turunan sawit di pasar global tetap tinggi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan Harga Referensi (HR) CPO untuk Mei 2026 mencapai US$1.049,58 per metrik ton, menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 6,06 persen dibandingkan bulan April 2026.

Kenaikan HR CPO ini sebagian besar dipicu oleh peningkatan permintaan global, penurunan produksi akibat libur panjang Idulfitri, serta dinamika geopolitik yang mempengaruhi pasar energi dunia.

Pemerintah juga menetapkan pungutan ekspor CPO sebesar US$178 per metrik ton untuk bulan Mei 2026, sebuah langkah yang sejalan dengan penguatan harga global.

Di tengah kondisi ini, para petani mandiri dihadapkan pada biaya operasional yang melonjak, khususnya harga pupuk yang naik hingga dua kali lipat, membuat hasil penjualan sawit tidak lagi sebanding dengan pengeluaran perawatan kebun mereka.

Kebijakan ekspor satu pintu, meskipun bertujuan untuk menata tata kelola ekspor sumber daya alam, justru menciptakan kebingungan di kalangan pelaku usaha dan menahan aktivitas perdagangan.

Ketidakjelasan regulasi dan mekanisme implementasi kebijakan memicu kepanikan pasar serta spekulasi, yang pada akhirnya menekan harga CPO dan harga TBS di tingkat petani.

Sebagai respons, pemerintah daerah di beberapa wilayah mulai mengambil tindakan, seperti Wakil Gubernur Bengkulu Mian yang meminta belasan perusahaan di Kabupaten Mukomuko untuk kembali mematuhi harga TBS yang ditetapkan pemerintah provinsi sebesar Rp3.465 per kilogram.

Pada periode kedua Mei 2026, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Selatan menetapkan harga TBS tertinggi Rp3.882,25 per kilogram untuk tanaman usia 10-20 tahun, meskipun angka ini sedikit menurun dibandingkan periode pertama Mei.

Harga CPO di Sumatra Selatan pada periode yang sama mencapai Rp15.058,72 per kilogram, sementara harga inti sawit tercatat Rp14.619,74 per kilogram.

Sementara itu, di Riau, harga TBS sawit plasma untuk periode 27 Mei hingga 2 Juni 2026 dilaporkan naik Rp65,73 per kilogram, namun harga TBS petani swadaya justru anjlok Rp147,79 per kilogram.

Volatilitas harga CPO di Bursa Malaysia juga terlihat, dengan kontrak berjangka Juni 2026 menguat 0,6 persen menjadi MYR 4.430 per metrik ton pada Jumat, 22 Mei 2026, setelah sempat anjlok sebelumnya.

Secara bulanan, harga CPO masih terkoreksi 2,03 persen, namun secara year-to-date (YtD) harga telah membukukan kenaikan signifikan sebesar 10,77 persen.

Para analis komoditas, seperti Wahyu Laksono dari Traderindo, menilai koreksi harga yang terjadi bersifat sementara (temporary retracement) setelah sebelumnya menyentuh MYR 4.900 per ton.

Faktor penurunan ekspor bulanan, terutama dari Malaysia ke India dan China, menjadi pemicu utama koreksi ini.

Namun, kondisi fundamental pasokan global yang relatif ketat karena pertumbuhan yang tidak terlalu agresif menahan harga dari tren bearish berkepanjangan.

Proyeksi harga CPO untuk tahun 2026 secara keseluruhan diperkirakan akan tetap bullish, dengan analis global membidik kisaran US$1.050 hingga US$1.250 per ton, bahkan dengan target US$1.125 per ton.

Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memprediksi harga CPO akan bertahan di sekitar MYR 4.400 per ton atau sekitar US$1.110 per ton pada Juni 2026.

Kuartal II-2026 juga diproyeksikan akan melihat harga CPO bergerak dalam rentang support MYR 4.370 per ton dan resistance MYR 4.800 per ton.

Permintaan CPO dari India yang meningkat menjelang siklus perayaan dan kebutuhan restocking pasca-Ramadan-Idul Fitri di negara-negara mayoritas muslim diperkirakan akan memberikan bantalan bagi harga.

Selain itu, serapan domestik Indonesia yang stabil di kisaran 15 juta hingga 16 juta kiloliter per tahun, sebagian besar untuk program biodiesel, secara otomatis mengurangi surplus ekspor dan membuat pasokan global lebih ketat.

Penyesuaian pungutan ekspor sejak Maret 2026 juga membantu menjaga pendanaan subsidi biodiesel sekaligus menopang harga CPO domestik.

Geopolitik Timur Tengah, harga minyak mentah dunia, dan kebijakan fiskal ekspor Indonesia adalah faktor-faktor penting yang perlu dicermati pasar saat ini.

Meskipun ada proyeksi positif untuk CPO global, nasib petani sawit mandiri di Indonesia masih menjadi sorotan, dengan harapan pemerintah dapat segera menstabilkan harga TBS di tingkat lokal.

Para petani berharap agar transparansi dalam penetapan harga dapat ditingkatkan dan intervensi pemerintah mampu mencegah kerugian lebih lanjut akibat spekulasi pasar dan kebijakan yang kurang jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses