portalmadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) langsung terkoreksi tajam pada pembukaan perdagangan setelah libur panjang. Mata uang Garuda terpantau melemah signifikan dan bergerak mendekati psikologis baru di level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa (2/6/2026) pagi.
Berdasarkan data perdagangan valuta asing pagi ini, rupiah bertengger di posisi Rp17.879 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 74 poin atau merosot 0,42 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya.
Faktor eksternal, terutama memanasnya situasi politik global dan rilis data ekonomi benteng pertahanan AS, menjadi motor utama yang menekan pergerakan rupiah ke zona merah pada awal pekan ini.
Tensi Geopolitik Timur Tengah Picu Keperkasaan Dolar AS
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini sejalan dengan indeks dolar AS yang kembali perkasa di pasar global. Lonjakan mata uang paman sam tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:UPDATE Harga Emas Hari Ini 2 Juni 2026: Antam Anjlok Rp25.000 per Gram, Pegadaian Justru Naik!
“Rupiah berpotensi terus melemah terhadap dolar AS pagi ini. Pasar merespons pernyataan keras dari pihak Iran yang memutuskan untuk menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat. Ditambah lagi, adanya rencana Iran untuk menutup total Selat Hormuz,” ungkap Lukman saat diwawancarai oleh CNNIndonesia.com, Selasa (2/6/2026).
Selain sentimen perang, Lukman menambahkan bahwa keperkasaan dolar AS juga mendapatkan sokongan kuat dari internal mereka sendiri. Data aktivitas manufaktur Amerika Serikat terbaru dilaporkan tumbuh lebih kuat dan melampaui perkiraan awal para analis, sehingga menambah daya dobrak dolar di pasar valas.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah akan berfluktuasi cukup lebar. Ia memperkirakan mata uang domestik akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Mata Uang Asia dan Negara Maju Bergerak Variatif
Tekanan dari keperkasaan dolar AS tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Di kawasan Asia, pergerakan mata uang regional terpantau bervariasi dengan mayoritas ikut melemah terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan memimpin pelemahan di Asia dengan terdepresiasi sebesar 0,16 persen. Langkah penurunan ini diikuti oleh peso Filipina yang melemah 0,03 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, serta dolar Singapura dan dolar Hong Kong yang kompak turun tipis 0,01 persen. Di sisi lain, yuan China berhasil menguat tipis 0,02 persen dan ringgit Malaysia terpantau bergerak stabil.
Kondisi serupa juga melanda mata uang utama negara-negara maju. Euro Eropa menjadi sedikit dari yang bertahan dengan menguat tipis 0,01 persen. Sementara itu, poundsterling Inggris harus turun 0,01 persen, franc Swiss melemah 0,03 persen, serta dolar Australia dan dolar Kanada yang kompak terkoreksi sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS pada pagi hari ini.





