PortalMadura.com – Harga emas global menunjukkan volatilitas pada pertengahan tahun 2024, dipengaruhi oleh serangkaian faktor ekonomi makro dan geopolitik yang kompleks.
Pada tanggal 9 Juni 2026, harga emas global (XAU/USD) sempat melemah ke sekitar $4.305,41 per troy ons, turun 0,27% dari hari sebelumnya.
Penurunan ini terjadi meskipun ada laporan penghentian permusuhan di Timur Tengah, yang biasanya akan mendukung aset safe-haven seperti emas.
Namun, dalam sebulan terakhir, harga emas global telah turun 9,09%.
Meskipun demikian, harga emas masih 29,37% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu, menunjukkan tren kenaikan jangka panjang yang kuat.
Harga emas domestik, seperti emas Antam, juga mengalami fluktuasi sepanjang bulan Juni 2024.
Pada awal Juni, sekitar tanggal 1 Juni 2024, harga emas batangan Antam tercatat turun tipis Rp1.000 menjadi Rp1.336.000 per gram.
Penurunan serupa juga terjadi pada tanggal 5 Juni 2024, dengan harga emas Antam merosot Rp13.000 menjadi Rp1.336.000 per gram.
Pada 26 Juni 2024, harga emas Antam kembali turun Rp7.000 per gram menjadi Rp1.361.000.
Namun, ada momen kenaikan signifikan pada 21 Juni 2024, ketika harga emas Antam melonjak Rp16.000 per gram menjadi Rp1.371.000.
Data terbaru pada 9 Juni 2026 menunjukkan harga emas Antam 24 karat berada di Rp2.733.000 per gram untuk jual dan Rp2.527.000 per gram untuk beli, dengan harga buyback sekitar Rp2.527.000 per gram.
Faktor Utama Penggerak Harga Emas Global
Kebijakan Moneter Bank Sentral dan Nilai Tukar Dolar AS
Salah satu faktor paling dominan yang memengaruhi harga emas adalah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Secara umum, terdapat hubungan terbalik (inverse correlation) antara suku bunga The Fed dan harga emas.
Ketika The Fed menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, instrumen investasi berbunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik, sehingga mengurangi permintaan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, penurunan suku bunga atau pelonggaran kuantitatif oleh The Fed cenderung meningkatkan harga emas.
Data ketenagakerjaan AS yang kuat baru-baru ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan sikap hawkish, bahkan berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir tahun.
Kondisi ini, bersama dengan menguatnya indeks dolar AS, dapat menekan harga emas karena membuat emas lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS.
Sebagai contoh, pada 5 Juni 2024, nilai dolar yang stabil menjelang pengumuman data pekerjaan AS disebut menyebabkan penurunan harga emas.
Ketegangan Geopolitik dan Peran Emas sebagai Aset Safe-Haven
Emas telah lama diakui sebagai aset safe-haven, yang menarik minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.
Konflik geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah atau perang Rusia-Ukraina secara signifikan meningkatkan permintaan emas.
Analis DFCX Futures, Lukman Leong, pada Desember 2023, menyoroti ketidakpastian geopolitik sebagai pemicu penguatan harga emas.
Meskipun ada laporan meredanya beberapa ketegangan di Timur Tengah pada Juni 2026, premi risiko geopolitik masih tetap ada, yang dapat membatasi apresiasi harga emas namun juga dapat bertindak sebagai pendorong bagi dolar AS sebagai aset safe-haven.
Inflasi dan Pembelian Emas oleh Bank Sentral
Emas juga dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.
Saat inflasi meningkat, daya beli mata uang cenderung menurun, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset yang memiliki nilai intrinsik.
Fenomena ini telah terbukti secara historis, di mana harga emas cenderung naik signifikan selama periode inflasi tinggi.
Selain investor individu, bank sentral di seluruh dunia juga secara aktif mengakumulasi emas.
Pembelian emas oleh bank sentral bertujuan untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka dan mengurangi ketergantungan pada mata uang tertentu, terutama dolar AS.
Menurut data dari World Gold Council, bank sentral menambahkan 1.136 ton emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai.
Tren pembelian ini diprediksi akan terus berlanjut, menjadi salah satu motor penggerak utama kenaikan harga emas di masa depan.
Prospek Harga Emas Menjelang Akhir 2024 dan 2025
Para analis dan lembaga keuangan global secara konsisten merevisi naik proyeksi harga emas untuk tahun 2024 dan 2025.
ANZ Research, misalnya, merevisi prediksinya dari US$2.243 menjadi US$2.301 per ons.
Serupa, ING mengubah proyeksi harga emas rata-rata untuk kuartal II dan III tahun 2024 menjadi US$2.300, dan US$2.350 untuk kuartal IV.
Secara umum, harga emas diperkirakan akan stabil di atas US$2.000 per troy ons dan kemungkinan akan diperdagangkan lebih tinggi.
Faktor-faktor seperti potensi pelonggaran kebijakan moneter (pemangkasan suku bunga) The Fed, pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, dan ketegangan geopolitik dipandang sebagai pendorong utama.
Morgan Stanley bahkan menyarankan untuk membeli emas.
Beberapa prediksi yang lebih optimistis menyebutkan bahwa harga emas bisa menembus US$4.900 per ons hingga tahun 2026.
Prospek bullish dari Bank Dunia juga mengindikasikan kenaikan 6% pada tahun 2024 jika konflik global berlanjut, yang dapat memicu ketidakpastian pasar komoditas secara luas.
Meskipun ada potensi koreksi jangka pendek akibat data ekonomi AS yang kuat, prospek jangka panjang emas tetap positif sebagai instrumen lindung nilai dan aset safe-haven.
Investor disarankan untuk memantau data ekonomi makro dan perkembangan geopolitik secara cermat untuk mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah dinamika pasar emas yang menarik ini.



