Harga Perak Antam Tergelincir Jelang Akhir Pekan: Analisis Mendalam Tren dan Prospek Pasar 2026

Avatar of Kenzo Chandra
Harga Perak Antam Melonjak di Tengah Dinamika Pasar Global dan Proyeksi Inflasi
Harga Perak Antam Melonjak di Tengah Dinamika Pasar Global dan Proyeksi Inflasi

PortalMadura.com – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, menjelang akhir pekan.

Harga perak Antam untuk ukuran 1 gram dilaporkan turun ke kisaran Rp44.750,00 pada hari tersebut.

Penurunan ini mencatatkan koreksi sebesar Rp2.600 per gram dibandingkan hari sebelumnya, mencapai level Rp43.150.

Pada hari Kamis, 18 Juni 2026, harga perak Antam per gram sempat berada di estimasi Rp47.350,00, dengan harga jual batangan murni 250 gram dipatok Rp11.837.500,00.

Sementara itu, harga perak umum pada 19 Juni 2026 juga turun menjadi Rp36.914,00 per gram pada pukul 09.47 WIB.

Perak batangan murni Antam seberat 250 gram pada Jumat, 19 Juni 2026, dibanderol Rp11.187.500,00.

Koreksi harga ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar logam mulia di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Dinamika Historis dan Volatilitas Harga Perak

Pergerakan harga perak Antam selama beberapa waktu terakhir menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.

Pada akhir Januari 2026, tepatnya 29 Januari, perak Antam mencatat rekor harga tertinggi di angka Rp74.500,00 per gram.

Nilai tersebut setara dengan Rp18.625.000,00 untuk batangan 250 gram pada puncak tersebut.

Namun, harga kemudian anjlok drastis ke Rp47.100,00 per gram pada awal Februari, tepatnya 6 Februari 2026.

Sepanjang Maret 2026, harga perak global juga berada dalam fase koreksi, turun hingga 22,8% secara bulanan dan melemah 2,9% secara year-to-date.

Sebelum penurunan tajam pada Jumat ini, harga perak Antam sempat menguat pada Senin, 15 Juni 2026, menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Pada awal Juni, tepatnya 2 Juni 2026, harga perak Antam tercatat Rp49.650 per gram, menunjukkan fluktuasi dalam rentang waktu singkat.

Faktor-faktor Penentu Harga Perak Global dan Domestik

Sejumlah faktor makroekonomi dan geopolitik secara konsisten memengaruhi pergerakan harga perak, baik di pasar global maupun domestik.

Kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) memiliki dampak signifikan; dolar yang menguat cenderung menekan harga perak karena membuatnya lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.

Ekspektasi kenaikan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) juga menjadi sentimen negatif karena meningkatkan biaya peluang memegang aset non-penghasil imbal hasil seperti perak.

Sentimen investor terhadap perak sebagai aset aman (safe haven) berperan penting selama periode ketidakpastian ekonomi dan inflasi.

Meskipun demikian, dampak dari ketegangan geopolitik dapat terbatas jika suku bunga global naik dan dolar AS menguat secara bersamaan.

Permintaan industri merupakan pendorong fundamental bagi harga perak, mengingat penggunaannya yang luas dalam elektronik, panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur 5G.

Silver Institute bahkan memproyeksikan defisit pasokan struktural selama enam tahun berturut-turut hingga tahun 2026, menunjukkan permintaan industri yang tinggi.

Di sisi pasokan, Meksiko, Peru, dan Tiongkok menjadi produsen perak terbesar di dunia, diikuti oleh Australia, Chili, Bolivia, Amerika Serikat, Polandia, dan Rusia.

Produksi tambang dan daur ulang juga memengaruhi ketersediaan perak di pasar global.

Perubahan teknologi juga dapat memengaruhi permintaan perak, seperti ketika teknologi fotografi digital mengurangi ketergantungan pada perak.

Analisis Pasar dan Prospek Perak 2026

Meskipun terjadi penurunan pada pertengahan Juni, prospek harga perak di sisa tahun 2026 masih menjadi topik hangat di kalangan analis.

Trading Economics memperkirakan perak akan diperdagangkan di sekitar $68,42 per troy ounce pada akhir kuartal ini dan berpotensi mencapai $82,84 dalam 12 bulan mendatang.

Analis dari HSBC telah menaikkan target harga perak rata-rata menjadi $75 per troy ounce untuk tahun 2026, meskipun mereka tetap berhati-hati terhadap potensi kenaikan tajam yang berkelanjutan.

Proyeksi HSBC didasarkan pada perkiraan defisit pasar perak global yang menyusut menjadi 73 juta ounce pada tahun 2026, dari 143 juta ounce pada tahun 2025.

Penyusutan defisit ini diakibatkan oleh peningkatan pasokan dari tambang dan daur ulang, serta melemahnya permintaan industri dan perhiasan.

Namun, beberapa analis lain tetap optimistis bahwa harga perak berpotensi menyentuh $100 hingga $130 per troy ounce dalam skenario eskalasi geopolitik yang intens.

Pemulihan harga perak sangat bergantung pada beberapa faktor makro utama, termasuk melandainya inflasi, pelemahan dolar AS, dan menguatnya permintaan dari sektor industri.

Perak merupakan instrumen investasi yang solid selama periode pemulihan produksi pasca krisis, dan harganya yang relatif rendah membuatnya lebih mudah diakses dibandingkan emas.

Volatilitas perak yang lebih tinggi dibandingkan emas menjadikannya menarik bagi investor yang mencari keuntungan lebih besar namun dengan risiko yang lebih tinggi.

Keputusan investasi pada perak, baik fisik maupun instrumen derivatif seperti ETF, harus mempertimbangkan tujuan investasi individu dan toleransi risiko.

Secara keseluruhan, meskipun perak Antam mengalami koreksi pada hari ini, analisis pasar jangka menengah hingga panjang menunjukkan potensi kenaikan yang didukung oleh fundamental industri dan peran perak sebagai lindung nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses