PortalMadura.com – Sumenep – Warga Sumenep dihadapkan pada gambaran inflasi yang cukup menarik di bulan Juni 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun laju inflasi bulanan berhasil ditekan hingga menjadi yang terendah di Jawa Timur, angka inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) masih berada di level yang cukup tinggi, bahkan menjadi yang tertinggi di wilayah madura.
Kondisi ini menunjukkan adanya upaya serius dari pemerintah daerah dalam mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok.
Namun, tekanan dari beberapa komoditas tertentu, terutama emas perhiasan, masih menjadi tantangan utama yang mempengaruhi perhitungan inflasi jangka panjang.
Inflasi Tahunan Sumenep Masih Tinggi, Emas Perhiasan Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Kabupaten Sumenep mencatatkan angka inflasi tahunan sebesar 5,12 persen pada Juni 2026.
Angka ini menjadikan Sumenep sebagai daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Jawa Timur untuk periode tersebut, dan juga yang tertinggi di Madura.
Menurut Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, pemicu utama inflasi tahunan ini masih berasal dari komoditas emas perhiasan.
Harga emas yang terus mengalami kenaikan signifikan berdampak besar pada Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumenep.
Fenomena ini tidak terlepas dari karakteristik masyarakat Madura, khususnya Sumenep, yang memang memiliki kecenderungan tinggi dalam berinvestasi pada emas perhiasan.
Dengan demikian, fluktuasi harga emas secara langsung memengaruhi angka inflasi secara keseluruhan di daerah tersebut.
Laju Inflasi Bulanan Terkendali, Terendah di Jawa Timur
Berbeda dengan inflasi tahunan, Sumenep justru menunjukkan performa yang sangat baik dalam mengendalikan inflasi bulanan pada Juni 2026.
BPS mencatat inflasi bulanan di Sumenep hanya sebesar 0,01 persen, menjadikannya angka inflasi terendah di Jawa Timur.
Sebagai perbandingan, inflasi bulanan di Kota Surabaya mencapai 0,46 persen, sementara rata-rata inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 0,44 persen.
Angka yang sangat rendah ini menandakan bahwa upaya pemerintah daerah dalam menstabilkan harga-harga di pasar cukup efektif dalam rentang waktu satu bulan terakhir.
Peran Vital Komoditas Pangan dan Intervensi Pemerintah
Keberhasilan menekan inflasi bulanan di Sumenep tidak lepas dari stabilnya harga sejumlah komoditas pangan.
Selama Juni 2026, harga beras, ayam ras, bawang, dan cabai secara umum relatif terkendali, dengan kenaikan yang tidak terlalu signifikan.
Bahkan, ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga.
Pada periode 22 hingga 30 Juni 2026, harga cabai merah besar, cabai rawit, dan tomat di Pasar Anom Baru Sumenep tercatat mengalami penurunan.
Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan pasar selama masa libur sekolah.
Selain itu, berhentinya sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis juga turut mengurangi penyerapan bahan pangan, sehingga pasokan menjadi lebih stabil.
Pemerintah Kabupaten Sumenep juga telah mengintensifkan berbagai intervensi pasar sejak awal Juni.
Program pasar murah dan operasi pasar rutin dilakukan di beberapa titik untuk menekan kenaikan harga, khususnya pada komoditas minyak goreng dan beras.
Pemkab Sumenep mengklaim program Teras Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) atau Warung Inflasi cukup efektif dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Selain itu, harga telur di tingkat peternak juga sempat anjlok di pertengahan Juni 2026, mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram.
Meskipun harga pakan ayam naik, para peternak memilih menjual telur secara eceran untuk mengurangi kerugian.
Kondisi ini, meskipun menekan peternak, dapat memberikan sedikit angin segar bagi konsumen.
Tantangan Geografis dan Kenaikan BBM
Meski inflasi bulanan berhasil ditekan, Sumenep masih menghadapi tantangan unik yang berpotensi memicu gejolak harga.
Salah satunya adalah faktor ongkos kirim ke wilayah kepulauan.
Dengan karakteristik geografis Sumenep yang memiliki banyak pulau, sedikit saja fluktuasi harga di tingkat produsen atau pabrik dapat memicu pedagang eceran di pasar tradisional untuk menaikkan harga lebih agresif guna menutupi biaya operasional dan pengiriman.
Di samping itu, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi dan tarif tiket pesawat juga menjadi pemicu inflasi secara regional di Jawa Timur pada Juni 2026.
Meskipun dampaknya terhadap inflasi bulanan Sumenep mungkin tidak terlalu dominan berkat upaya stabilisasi lokal, namun faktor-faktor ini tetap menjadi perhatian yang membutuhkan koordinasi lebih lanjut untuk menjaga daya beli masyarakat.
Upaya Menjaga Stabilitas Ekonomi Sumenep
Pemerintah Kabupaten Sumenep, bersama dengan BPS, terus melakukan kajian mendalam untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan inflasi tetap tinggi dibandingkan daerah lain di Madura.
Komitmen Pemkab untuk terus mengawal ketersediaan pasokan bahan pokok dan energi diharapkan dapat melindungi masyarakat dari lonjakan harga yang tak terkendali.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, BPS Kabupaten Sumenep juga tengah menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
Sensus ini akan memetakan seluruh sektor usaha, termasuk pertanian yang menjadi penyumbang terbesar perekonomian Sumenep (sekitar 36 persen).
Data akurat dari SE2026 diharapkan menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.







