PortalMadura.com – Harga Bitcoin (BTC) berhasil mempertahankan posisinya di kisaran $73.500 pada hari Jumat, 29 Mei 2026, menunjukkan ketahanan pasar meskipun menghadapi tekanan jual yang signifikan.
Mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini diperdagangkan sekitar $73.463,78, mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,13% dalam 24 jam terakhir, menurut data CoinMarketCap.
Di pasar Indonesia, Bitcoin bergerak di rentang Rp1.302.019.100 hingga Rp1.314.173.128, sesuai laporan dari Pintu dan Pluang.
Pergerakan harga ini terjadi di tengah volume perdagangan 24 jam yang mencapai $35,39 miliar, menunjukkan aktivitas pasar yang berkelanjutan.
Kapitalisasi pasar global Bitcoin saat ini mencapai $1,47 triliun, menjadikannya aset digital dengan valuasi tertinggi di dunia.
Meski menunjukkan sedikit penguatan harian, Bitcoin masih mencatatkan penurunan sebesar -4,41% selama seminggu terakhir dan -2,86% dalam sebulan terakhir.
Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang berlanjut setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa $126.272 pada 5 Oktober 2025.
Salah satu faktor utama yang menekan harga adalah arus keluar yang berkelanjutan dari Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot.
Pada 28 Mei, tercatat arus keluar ETF spot Bitcoin sebesar -$223 juta, menandai hari dengan arus keluar terbesar dalam lebih dari tiga minggu.
Arus keluar ini mencapai -$233 juta sehari sebelumnya, melanjutkan tren mengkhawatirkan di mana institusi besar melakukan pelepasan kepemilikan kripto dalam jumlah besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen institusional mungkin masih berhati-hati terhadap aset digital, meskipun ada adopsi yang meningkat.
Di sisi lain, volatilitas Bitcoin telah mengalami kompresi signifikan, mencapai level terendah sejak awal Kuartal 1 tahun 2026.
Secara historis, periode kompresi volatilitas semacam ini sering mendahului pergerakan harga yang lebih besar, antara 8% hingga 15%, dalam waktu 5 hingga 7 sesi perdagangan.
Hal ini menciptakan kondisi pasar yang tegang, di mana para pedagang menunggu ‘ledakan’ harga ke salah satu arah.
Indikator teknis seperti Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi oversold, dengan RSI_6 di 24.12 dan RSI_12 di 28.84.
Kondisi oversold seperti ini secara historis sering mendahului koreksi harga naik, memberikan harapan bagi para investor bullish.
Analis pasar mencatat bahwa Bitcoin sedang berkonsolidasi di atas $73.000, yang merupakan level dukungan krusial.
Namun, harga masih berada di bawah titik pivot (PP) Rp1.308.983.497 dan mendekati level dukungan S1 Rp1.290.983.349 di pasar IDR.
Beberapa pengamat juga menyoroti pentingnya penutupan mingguan di atas level $73.800, atau bahkan di atas 20-minggu Simple Moving Average (SMA) sekitar $75.000, untuk mempertahankan momentum bullish jangka pendek.
Dari sisi fundamental, kelangkaan Bitcoin semakin ditekankan karena 96% dari total pasokan maksimum 21 juta BTC sudah beredar.
Kelangkaan ini mendukung narasi Bitcoin sebagai “emas digital” atau penyimpan nilai, di mana banyak investor memilih untuk “HODL” (menyimpan dalam jangka panjang) aset ini.
Perkembangan makroekonomi dan geopolitik juga menjadi perhatian pasar.
Laporan mengenai perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran berpotensi memicu pergerakan pasar signifikan menjelang bulan Juni, meskipun Bitcoin menunjukkan reaksi minimal pada awalnya.
Secara keseluruhan, pasar Bitcoin pada akhir Mei 2026 berada dalam kondisi tarik-menarik antara tekanan jual institusional dan sinyal teknis yang menunjukkan potensi pembalikan.
Para pedagang dan investor kini memantau dengan cermat level-level kunci dan perkembangan makroekonomi untuk mengantisipasi pergerakan harga selanjutnya.
Apakah ini akan menjadi pantulan bullish atau awal dari koreksi yang lebih dalam, waktu akan menjawabnya.





