PortalMadura.com – Di saat pasar keuangan global terguncang akibat eskalasi militer di Timur Tengah, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Pada perdagangan Selasa (10/3/2026), aset kripto terbesar di dunia ini berhasil menembus level US$73.000 atau setara dengan Rp1,23 miliar, mengukuhkan posisinya sebagai pilihan alternatif investor di masa krisis.
Pergerakan harga ini sangat kontras jika dibandingkan dengan awal pecahnya konflik pada akhir Februari lalu. Saat itu, Bitcoin sempat anjlok ke level US$63.000 akibat kepanikan pasar. Namun, dalam waktu singkat, harga berbalik arah dan mencatatkan kenaikan sekitar 12% hingga hari ini.
Investasi Institusi Tetap Deras Lewat ETF
Kenaikan harga ini didorong oleh aliran dana masuk (inflow) yang masif pada instrumen ETF Bitcoin Spot. Berdasarkan laporan pasar terbaru, nilai investasi institusi mencapai hampir US$1 miliar hanya dalam sepekan terakhir. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor besar tetap optimis meski tensi geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas.
Analis pasar menilai bahwa investor kini mulai memperlakukan Bitcoin sebagai ‘Emas Digital’. Di tengah ancaman gangguan sistem perbankan fisik di wilayah konflik, aset digital menawarkan kemudahan akses dan mobilitas kekayaan yang tidak terbatas oleh batas negara.
Lindung Nilai Terhadap Inflasi Global
Selain faktor keamanan, lonjakan harga minyak dunia yang menyentuh US$119 per barel turut memicu kekhawatiran inflasi global. Dalam situasi di mana nilai mata uang fiat terancam merosot, Bitcoin menjadi instrumen lindung nilai (hedging) yang menarik bagi para pemegang modal.
Meskipun demikian, para ahli tetap mengingatkan adanya risiko volatilitas tinggi. “Pasar tetap harus waspada terhadap potensi gangguan infrastruktur digital atau serangan siber yang seringkali menyertai konflik skala besar,” ungkap salah satu analis kripto terkemuka hari ini.
Bitcoin vs Aset Tradisional
Berbeda dengan Rupiah yang tertekan hebat hingga menyentuh angka Rp17.150 per Dolar AS, Bitcoin justru menyerap likuiditas dari pasar yang sedang menghindari risiko (risk-off) di sektor saham. Fenomena ‘Buy the Dip’ atau aksi beli saat harga turun di awal konflik terbukti efektif mendorong harga ke rekor baru di bulan Maret ini.





