PortalMadura.com–Harga Bitcoin (BTC) kini berada di sekitar US$87.000, setelah mengalami penurunan sekitar 10% dalam sembilan hari terakhir hingga 19 Desember 2025. Namun, koreksi ini tidak terjadi secara tiba-tiba—melainkan melalui pelemahan bertahap yang mencerminkan dinamika pasar yang kompleks.
Di tengah sorotan terhadap masuknya dana institusional ke aset kripto, harga justru tertekan. Menurut analisis dari Bull Theory yang dikutip oleh CaptainAltcoin pada pertengahan Desember 2025, penurunan ini bukan tanda melemahnya fundamental Bitcoin, melainkan akibat suplai besar yang masuk ke pasar—terutama dari kawasan Asia.
Salah satu pemicu utama tekanan jual berasal dari pengetatan kembali aktivitas penambangan Bitcoin di China. Meski pangsa hash rate global China kini hanya sekitar 14%—jauh dari dominasi 65% pada 2021—setiap perubahan regulasi di sana tetap berdampak signifikan.
Data jaringan menunjukkan, hash rate Bitcoin turun sekitar 8% dalam dua pekan terakhir. Penurunan ini memaksa banyak miner mematikan perangkat karena biaya operasional tak lagi sebanding dengan pendapatan. Akibatnya, mereka terpaksa melepas BTC cadangan untuk menutupi kebutuhan likuiditas—meski harga sedang turun.
Fenomena ini dikenal sebagai forced selling: penjualan bukan karena kehilangan kepercayaan, tetapi karena tekanan finansial akibat gangguan operasional.
Institusi Beli, Tapi Tak Cukup Dongkrak Harga
Di sisi lain, minat beli dari institusi tetap kuat. Namun, pembelian institusional biasanya bertahap dan tidak langsung menyerap seluruh suplai yang masuk pasar. Sementara itu, volume jual dari miner dan pemegang lama—terutama di Asia—ternyata lebih besar dalam jangka pendek.
Artinya, permintaan kuat belum mampu menyeimbangkan tekanan pasokan. Selama net supply melebihi net demand, harga akan sulit bergerak naik secara signifikan, meski sentimen makro positif.
Whale Asia Diduga Lakukan Distribusi Terencana
Data on-chain mengungkapkan peningkatan penjualan dari long-term holder (LTH) dalam 1–2 bulan terakhir, terutama dari kawasan Asia. Pola penjualannya teratur dan bertahap, sejalan dengan penurunan harga yang perlahan—bukan aksi jual panik.
Banyak dari pemegang awal Bitcoin berasal dari China dan negara Asia lainnya, yang sejak lama aktif dalam penambangan dan akumulasi BTC. Kini, mereka tampaknya mendistribusikan asetnya secara strategis kepada pembeli baru, termasuk institusi Barat.
Data Bursa Perkuat Narasi Tekanan Jual Asia
Perbedaan arus dana antar bursa memperjelas sumber tekanan. Binance, OKX, dan Bybit—yang mayoritas penggunanya berasal dari Asia—menunjukkan net spot selling konsisten sepanjang kuartal IV 2025.
Sebaliknya, Coinbase, yang mewakili arus dana investor AS, tetap mencatat net buying. Meski ada arus keluar dari ETF Bitcoin di AS, data menunjukkan itu bukan pendorong utama penurunan harga.
Kesimpulan: Redistribusi, Bukan Krisis
Penurunan harga Bitcoin saat ini lebih mencerminkan proses redistribusi kepemilikan—dari miner dan holder lama ke institusi dan investor baru. Bukan tanda kegagalan fundamental.
Selama forced selling dari pihak yang tertekan secara operasional masih berlangsung, harga BTC kemungkinan tetap bergerak sideways atau terbatas. Namun, begitu tekanan jual mereda, akumulasi institusional bisa menjadi pemicu rally berikutnya.
Arah harga selanjutnya tidak ditentukan oleh berita pembelian besar, melainkan oleh keseimbangan antara pasokan paksa dan permintaan riil di pasar spot.





