PortalMadura.com – Kabar gembira bagi para penggemar ponsel dengan keyboard fisik dan nuansa retro!
Setelah bertahun-tahun didominasi layar sentuh, era kejayaan keyboard fisik ala BlackBerry diprediksi akan kembali menggema pada tahun 2026.
Perusahaan Clicks telah resmi memperkenalkan wujud nyata smartphone terbarunya, Communicator, yang mengusung desain ikonik serupa BlackBerry dengan sistem operasi Android 16.
Perangkat ini menjanjikan kombinasi nostalgia dengan teknologi modern, membidik pasar yang merindukan pengalaman mengetik taktil yang responsif.
Dengan harga yang diperkirakan mulai dari Rp 8 jutaan, Clicks Communicator siap mencuri perhatian di tengah gempuran ponsel layar sentuh di pasaran.
Era Retro Kembali Menggema di Dunia Gadget
Tren ponsel bergaya retro memang kembali mencuri perhatian.
Fenomena ini muncul hampir dua dekade setelah iPhone memperkenalkan layar sentuh penuh yang perlahan menyingkirkan keyboard fisik dari pasar utama.
Namun, komunitas penggemar ponsel berbentuk persegi dengan keyboard khasnya tetap setia, menunjukkan bahwa daya tarik tersebut tak pernah sepenuhnya pudar.
Bagi sebagian pengguna, daya tarik keyboard fisik bukan sekadar nostalgia, melainkan soal kontrol dan efisiensi.
Jeff Gadway, salah satu pendiri Clicks Technology, mengungkapkan bahwa sekitar 45% basis pelanggan mereka belum pernah menggunakan ponsel dengan keyboard fisik sebelumnya.
Mereka memandang ini sebagai cara baru yang sepenuhnya berbeda untuk menggunakan ponsel yang lebih terarah, bukan hanya sekadar kilas balik ke masa lalu.
Clicks Communicator: Detail Spesifikasi dan Fitur Unggulan
Clicks Communicator diperkenalkan pertama kali di ajang CES awal tahun ini, meskipun saat itu masih berupa unit dummy yang belum bisa dioperasikan.
Kini, Clicks telah merilis video hands-on perdana di YouTube yang memperlihatkan seluruh fitur dan pengalaman penggunaan ponsel tersebut secara mendalam.
Mengutip Engadget dan dikonfirmasi CNBC Indonesia, Communicator mengusung desain yang mengingatkan pada ponsel BlackBerry dengan keyboard fisik penuh di bagian bawah layar.
Perangkat ini menjalankan sistem operasi Android 16 dan dibekali layar OLED berukuran 4 inci, menawarkan tampilan yang jernih dalam balutan desain klasik.
Meskipun diposisikan sebagai perangkat pendamping atau kedua bagi sebagian besar pengguna, Communicator tidak main-main dalam hal spesifikasi.
Ia dibekali kamera utama 50 MP, kamera depan 24 MP, serta baterai berkapasitas 4.000 mAh.
Fitur konektivitas modern juga melengkapinya, termasuk dukungan NFC untuk Google Pay, Bluetooth, Wi-Fi, port USB-C, hingga kemampuan pengisian daya nirkabel.
Perusahaan Clicks didirikan bersama oleh YouTuber teknologi terkenal, Michael Fisher, yang lebih dikenal dengan nama MrMobile.
Sebelumnya, Clicks dikenal melalui aksesori keyboard fisik untuk iPhone.
Antarmuka khusus pada Communicator dikembangkan berdasarkan Niagara Launcher, memungkinkan pengguna mengatur aplikasi melalui tampilan bergaya pita di sisi kanan layar atau langsung mengetik menggunakan keyboard fisik.
Untuk harganya, Clicks Communicator diperkirakan akan dibanderol sekitar Rp 8 jutaan di pasaran.
Angka ini mencerminkan kombinasi antara desain unik, fungsionalitas keyboard fisik, dan teknologi modern yang ditawarkannya.
Bukan BlackBerry Ltd.: Pergeseran Fokus Perusahaan Induk
Penting untuk dicatat bahwa kebangkitan ponsel bergaya BlackBerry ini tidak datang langsung dari BlackBerry Limited.
Sejak Januari 2022, BlackBerry Limited telah resmi menghentikan dukungan untuk sistem operasi (OS) klasiknya.
Perusahaan ini tidak mati, melainkan telah bermetamorfosis menjadi raksasa keamanan siber dan Internet of Things (IoT).
BlackBerry Limited kini fokus pada komunikasi tingkat militer, manajemen krisis, dan melindungi data pemerintahan atau sistem keamanan mobil pintar.
Jadi, jika Anda mendengar nama BlackBerry hadir kembali, itu lebih mengacu pada teknologi keamanan siber mereka, bukan penjualan ponsel.
Pemain Lain di Pasar Ponsel Keyboard Fisik
Tren keyboard fisik ini tidak hanya diusung oleh Clicks.
Beberapa perusahaan lain juga turut meramaikan pasar ini, menunjukkan adanya permintaan yang signifikan.
Unihertz Titan 2 Elite
Produsen China Unihertz memperkenalkan Titan 2 Elite pada gelaran Mobile World Congress 2026.
Ponsel Android ini juga memiliki keyboard QWERTY fisik dengan lampu layar penuh.
Meskipun tidak memiliki trackball, tombol keyboardnya dilengkapi pintasan untuk berbagai aplikasi dan membantu pengeditan teks.
Unihertz Titan 2 Elite dibanderol sekitar Rp 6 jutaan.
Zinwa Q25 Pro
Ada pula Zinwa Technologies yang membangkitkan kembali BlackBerry Classic Q20 dengan sentuhan modern dan OS Android.
Ponsel bernama Zinwa Q25 Pro ini dibekali chipset MediaTek Helio G99, RAM 12GB, dan memori internal hingga 256GB.
Dengan harga sekitar US$400 atau sekitar Rp6,5 juta, Zinwa Q25 Pro juga menawarkan opsi DIY kit bagi mereka yang ingin mengubah BlackBerry Classic lama mereka.
Mengapa Sekarang? Daya Tarik Unik Keyboard Fisik
Kembalinya minat pada keyboard fisik ini tak lepas dari beberapa faktor kunci.
Banyak pengguna rindu akan umpan balik taktil (tactile feedback) yang diberikan tombol fisik, yang diyakini dapat mengurangi kesalahan pengetikan dan meningkatkan kecepatan, terutama untuk penulisan email panjang atau dokumen.
Selain itu, untuk para profesional yang membutuhkan alat komunikasi yang andal dan aman, keyboard fisik memberikan rasa kontrol dan produktivitas yang berbeda.
Ini adalah pilihan yang menarik bagi mereka yang mencari efisiensi lebih dari sekadar ponsel layar sentuh biasa, baik untuk kebutuhan bisnis, penulisan pesan, atau manajemen jadwal.
Fenomena ini juga mencerminkan bahwa ponsel kini semakin menyerupai tren mode yang bersifat siklus.
Kita cenderung menggunakan ponsel cerdas sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, dan bagi sebagian orang, kembali ke desain klasik dengan sentuhan modern adalah cara untuk menonjol.
Dengan hadirnya Clicks Communicator dan upaya dari produsen lain, tahun 2026 diprediksi akan menjadi era menarik bagi pasar smartphone.
Kehadiran ponsel berkeyboard fisik ini menawarkan alternatif bagi konsumen yang mencari pengalaman berbeda, membuktikan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan apa yang telah terbukti fungsional dan disukai.
Baca Juga:







