portalmadura.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan pendanaan investasi hingga Rp 200 triliun pada tahun 2026. Berbeda dengan sovereign wealth fund di beberapa negara lain yang mengandalkan kelebihan fiskal anggaran negara, sumber pendanaan utama Danantara bertumpu pada hasil kelolaan laba dan pembagian dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa efisiensi dan restrukturisasi perusahaan plat merah menjadi prioritas utama demi menjaga keberlanjutan investasi nasional. Langkah penataan ini dilakukan untuk memicu peningkatan profitabilitas BUMN secara berkelanjutan.
Danantara mematok target laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp 360 triliun. Target tersebut disusun sebagai fondasi utama untuk memperkuat kapasitas Danantara dalam mendanai proyek-proyek strategis serta mendorong nilai ekonomi perusahaan negara.
Sejumlah strategi transformasi telah dijalankan, antara lain penggabungan (konsolidasi) entitas usaha yang sejenis, penutupan anak usaha yang terus mengalami kerugian, hingga penghentian bisnis yang tidak sejalan dengan inti usaha (core business). Penataan model bisnis ini terbukti mendongkrak efisiensi secara signifikan.
Sebagai contoh, pembenahan model bisnis di PT Pupuk Indonesia mampu mendorong kenaikan laba bersih hingga 233 persen. Sementara itu, PT Semen Indonesia mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 427 persen pascatransformasi. Di sektor energi, penggabungan tiga anak usaha hilir Pertamina berhasil menciptakan penghematan biaya operasional hingga US$ 1 miliar dalam kurun waktu enam bulan.
Manajemen Danantara menegaskan bahwa dividen yang terkumpul nantinya tidak akan disetorkan ke APBN, melainkan dialokasikan secara penuh untuk re-investasi strategis. Upaya ini diharapkan dapat memutar roda perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor industri.





