PortalMadura.com, Jakarta – Sejak akhir Januari, harga Ethereum (ETH) mengalami penurunan 21% dan sulit bertahan di atas $2.800, seiring dengan melemahnya pasar kripto yang turun 12% dalam periode yang sama. Meskipun demikian, dominasi Ethereum dalam total value locked (TVL) terus meningkat, mencapai level tertinggi sejak 2022. Namun, kenaikan TVL ini tidak selalu mencerminkan pertumbuhan aktivitas jaringan atau peningkatan pendapatan dari biaya transaksi.
Ethereum tetap menjadi pemimpin dalam sektor DeFi, dengan pangsa 52,8% dari total TVL, diikuti oleh Solana dengan 8,2%. Pada Februari 2025, TVL Ethereum mencapai 21,8 juta ETH, naik 11% dalam sebulan terakhir. Sementara itu, pesaing seperti BNB Chain mengalami penurunan 3% dalam deposit smart contract. Beberapa proyek berbasis Ethereum, seperti Lido, EigenLayer, Aave, serta platform yield farming dan likuiditas lintas jaringan, terus menunjukkan kinerja positif.
Meskipun jumlah aset yang dikunci meningkat, biaya transaksi Ethereum justru turun drastis, hanya menghasilkan $8,1 juta dalam sepekan, turun 72% dibandingkan dua minggu sebelumnya. Aktivitas transaksi juga melemah, dengan penurunan volume sebesar 37%. Jaringan layer-2 seperti Arbitrum, Base, dan Polygon turut mengalami perlambatan, sementara BNB Chain justru mencatat peningkatan transaksi 60%. Hal ini berdampak pada berkurangnya pendapatan jaringan, yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan ETH.
Saat ini, tidak ada indikasi kuat bahwa harga ETH akan segera melampaui $3.000, meskipun TVL meningkat. Salah satu faktor yang berpotensi mendorong harga naik adalah persetujuan ETF spot Ethereum oleh SEC, terutama jika memungkinkan staking. Jika aktivitas jaringan tidak segera pulih, Ethereum mungkin akan tetap bergerak sejalan dengan tren pasar kripto secara keseluruhan. Investor yang ingin membeli ETH dapat mempertimbangkan platform exchange terpercaya seperti Bittime untuk transaksi yang aman dan mudah.