Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok di Bawah $87.000 – Ini Penyebabnya!

Avatar of PortalMadura.com
Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok di Bawah $87.000 – Ini Penyebabnya!
Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok di Bawah $87.000 – Ini Penyebabnya!

PortalMadura.comPasar kripto mengalami tekanan hebat pada Rabu, 17 Desember 2025.

Harga Bitcoin hari ini turun tajam ke level di bawah $87.000, sementara Ethereum mendekati $3.000 dan XRP merosot ke kisaran $1,92. Kapitalisasi pasar global kripto pun menyusut ke sekitar $3 triliun, menurut data dari CoinGecko dan CoinMarketCap.

Penurunan ini tidak terjadi secara perlahan—melainkan sangat cepat dan serempak. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam setelah pembukaan pasar Amerika Serikat, harga Bitcoin anjlok hampir $2.000, menghapus sekitar $40 miliar dari kapitalisasi pasarnya.

Likuidasi Leverage Picu Efek Domino

Menurut laporan CoinAnk pada 16 Desember 2025, lebih dari $125 juta posisi long (beli dengan leverage) terlikuidasi hanya dalam 60 menit.

Likuidasi terjadi ketika trader tidak mampu mempertahankan margin akibat pergerakan harga yang tajam, sehingga sistem secara otomatis menutup posisi mereka—dan memperparah tekanan jual.

Efek domino ini tidak hanya menghantam Bitcoin, tetapi juga menjalar ke aset kripto besar lainnya seperti Ethereum dan XRP, karena banyak trader menggunakan portofolio lintas-aset saat memperdagangkan dengan leverage tinggi.

Kekhawatiran Suku Bunga Bank of Japan

Faktor makroekonomi turut memperburuk keadaan. Pada 15 Desember 2025, media Nikkei melaporkan bahwa Bank of Japan (BoJ) diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dari 0,50% menjadi 0,75%, dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan pada 19 Desember 2025.

Jika terjadi, ini akan menjadi kenaikan suku bunga paling signifikan di Jepang dalam hampir dua dekade. Selama bertahun-tahun, investor global memanfaatkan yen carry trade: meminjam yen dengan bunga rendah, lalu menginvestasikannya ke aset berisiko seperti kripto.

Kenaikan suku bunga akan membuat strategi ini tidak lagi menguntungkan—memaksa investor menarik dana dari pasar kripto.

Catatan sejarah menunjukkan pola serupa: pada Juli 2024, kenaikan suku bunga awal BoJ menyebabkan Bitcoin turun 26% dalam seminggu. Dan pada Januari 2025, harga Bitcoin kembali rontok 25% dalam beberapa pekan.

The Fed Belum Beri Sinyal Pelonggaran

Dari sisi Amerika Serikat, Federal Reserve masih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Meski inflasi AS mulai melandai dan tingkat pengangguran naik ke 4,8%, The Fed belum menunjukkan tanda-tanda akan segera memangkas suku bunga secara agresif.

Tanpa aliran likuiditas baru dari bank sentral AS, aset berisiko seperti kripto kehilangan pendorong utama kenaikannya. Bahkan pembelian besar-besaran Bitcoin oleh institusi—seperti perusahaan publik atau ETF—belum cukup untuk menahan tekanan jual akibat faktor makro global.

Di sisi lain, Jepang sendiri sedang menghadapi kontraksi ekonomi 0,6% dalam kuartal terakhir. Pemerintah telah mengumumkan paket stimulus senilai ¥17 triliun untuk memulihkan likuiditas, tetapi dampaknya ke pasar kripto masih belum terasa.

Penurunan harga Bitcoin hari ini bukanlah gejala sentimen negatif tunggal, melainkan hasil dari tiga kekuatan utama:

  1. Likuidasi massal akibat leverage berlebihan,
  2. Ketakutan akan kenaikan suku bunga Bank of Japan, dan
  3. Kebijakan moneter ketat The Fed yang membatasi aliran modal risiko.

Meski penurunan terasa tajam, pola seperti ini sering menjadi bagian dari fase pembersihan pasar. Setelah tekanan ekstrem mereda—terutama pasca-keputusan BoJ pada 19 Desember—pasar kripto biasanya mulai menemukan keseimbangan baru. Ini bukan jaminan kenaikan instan, tetapi juga bukan awal dari krisis berkepanjangan.

Bagi investor, momen seperti ini mengingatkan pentingnya manajemen risiko, diversifikasi, dan tetap fokus pada fundamental jangka panjang—bukan sekadar fluktuasi harga harian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses