PortalMadura.com – Pada Selasa, 26 Mei 2026, harga emas di pasar domestik mengalami koreksi tipis, sementara harga emas spot global menunjukkan fluktuasi di tengah sentimen geopolitik yang memanas dan antisipasi kebijakan suku bunga.
Logam Mulia Antam mencatatkan penurunan harga dasar sebesar Rp 5.000, menjadi Rp 2.798.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.803.000 per gram.
Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam berada di angka Rp 2.607.000 per gram pada tanggal yang sama.
Di platform lain seperti Pegadaian, harga emas Antam 1 gram tercatat di kisaran Rp 2.882.000 hingga Rp 2.916.000, dengan harga buyback sekitar Rp 2.490.000 per gram.
Pergerakan ini memutus laju penguatan signifikan yang terjadi selama sepekan terakhir.
Fluktuasi Harga Emas Global
Harga emas spot dunia pada Selasa, 26 Mei 2026, terpantau turun 0,9% menjadi US$ 4.529,50 per ons troi pada pukul 05.45 GMT.
Namun, sehari sebelumnya, pada Senin (25/5/2026), harga emas sempat melonjak lebih dari 1%, didukung oleh pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak.
Kenaikan tersebut juga dilaporkan mencapai 1,4% menjadi USD4.573,31 per troy ons pada perdagangan Senin waktu setempat.
Pada pukul 13.10 WIB tanggal 26 Mei 2026, harga spot dunia masih menunjukkan pelemahan sebesar $21,89 per ons, mencapai $4.529,73 per ons.
Dalam rupiah, harga emas spot dunia tercatat Rp 2.601.190 per gram, melemah Rp 822 dibanding perdagangan sebelumnya.
Faktor-faktor Pendorong Pergerakan Harga Emas
Dinamika harga emas dipengaruhi kuat oleh ketegangan geopolitik, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Serangan terbaru AS di Iran mendorong kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi dan potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Kenaikan harga minyak mentah juga dapat memperbesar tekanan inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga di level tinggi.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS dapat membuat emas lebih murah bagi investor global dan mendukung kenaikan harganya.
Sebaliknya, penguatan indeks dolar AS dan aksi ambil untung investor setelah reli panjang beberapa pekan terakhir juga berkontribusi pada penurunan harga emas global.
Pasar juga terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Federal Reserve AS, dengan peluang 56% kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Keputusan Bank Indonesia terkait BI-Rate juga berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah dan harga emas domestik.
Secara keseluruhan, pasar emas tetap berada dalam kondisi volatil, menuntut investor untuk terus mencermati perkembangan global.





