portalmadura.com – Pergerakan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diperkirakan berlangsung fluktuatif pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Setelah mencatatkan lonjakan signifikan pada hari sebelumnya, pergerakan logam mulia ini kini dibayangi risiko koreksi teknikal, meski peluang penguatan susulan tetap terbuka.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa harga emas Antam berpotensi mengalami penurunan menuju rentang Rp2.688.000 per gram. Apabila tekanan jual di pasar berlanjut, harga bahkan berisiko menguji level batas bawah (support) pada angka Rp2.600.000 per gram.
Kendati demikian, peluang penguatan belum sepenuhnya tertutup. Ibrahim menilai emas Antam masih berpotensi merangkak naik menuju target Rp2.800.000 per gram apabila berhasil menembus beberapa titik resistensi kunci.
“Area resistensi pertama logam mulia berada di level Rp2.731.000 per gram. Jika berhasil menembus batas tersebut dan menguat lebih jauh, harga berpeluang mencapai Rp2.810.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam analisis pasarnya, Jumat (4/9/2026).
Emas Antam Naik Rp15.000 per Gram
Pergerakan harga emas dalam negeri sejauh ini terdorong oleh tren positif di pasar global. Berdasarkan data resmi Logam Mulia pada Kamis (3/9/2026), harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.639.000 per gram.
Kenaikan ini sekaligus memulihkan posisi emas setelah sempat merosot Rp40.000 pada Rabu (2/9/2026) ke level Rp2.624.000 per gram. Sejalan dengan itu, harga buyback (beli kembali) oleh Antam turut terangkat Rp15.000 menjadi Rp2.492.000 per gram.
Meski mulai merangkak naik, posisi harga saat ini masih berada sekitar 14,04 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebesar Rp3.168.000 per gram yang tercipta pada 29 Januari 2026. Namun, jika dibandingkan dengan posisi awal tahun pada 1 Januari 2026 sebesar Rp2.488.000 per gram, emas Antam masih mengantongi akumulasi kenaikan sebesar 9,44 persen.
Penguatan Emas Dunia dan Sentimen The Fed
Di pasar internasional, harga emas mendapat angin segar setelah menguat hampir 2 persen pada perdagangan Kamis. Emas pasar spot ditutup pada level US$4.473,6 per troy ons (naik 1,96 persen), mencatatkan reli penguatan dua hari beruntun dengan total kenaikan mendekati 4 persen.
Kenaikan harga emas dunia utamanya dipicu oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,62 persen ke posisi 98,969, yang merupakan titik terendah sejak 25 Agustus. Pelemahan dolar AS membuat komoditas emas relatif lebih murah dan menarik bagi pemilik mata uang lain.
Selain faktor nilai tukar, fokus pelaku pasar terarah pada sinyal kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, mengindikasikan bahwa penyesuaian suku bunga acuan akan sangat bergantung pada rilis data inflasi mendatang.
“Apabila data menunjukkan inflasi bergerak konsisten menuju target 2 persen, saya mendukung untuk mempertahankan suku bunga. Namun, jika tekanan inflasi kembali meningkat, opsi kenaikan suku bunga akan dipertimbangkan,” tutur Waller.
Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi. Berdasarkan instrumen CME FedWatch, probabilitas Federal Funds Rate bertahan di kisaran 3,5–3,75 persen pada rapat September 2026 naik menjadi 49,8 persen dari sebelumnya 36,8 persen. Kepastian ini memberikan ruang bagi harga emas untuk menjaga tren penguatan.
Prospek Teknikal Emas Hari Ini
Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 56, menandakan momentum pasar secara umum masih berada di zona positif (bullish). Meski demikian, indikator Stochastic RSI 14 hari yang berada di posisi 35 mengindikasikan adanya potensi tekanan jual jangka pendek.
Untuk perdagangan Jumat (4/9/2026), titik pivot pasar berada di kisaran US$4.457 per troy ons. Jika menembus ke bawah titik tersebut, emas berpotensi menguji kisaran US$4.425 per troy ons (area Moving Average 5), dengan area penopang selanjutnya di rentang US$4.407–US$4.333 per troy ons dan batas bawah pesimistis pada US$4.285 per troy ons.
Sebaliknya, jika tren menguat berlanjut, harga emas akan menguji batas atas pertama di US$4.508 per troy ons. Penembusan di titik ini berpeluang membawa harga menuju US$4.534–US$4.587 per troy ons, dengan target optimistis mencapai US$4.675 per troy ons.





