PortalMadura.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan signifikan sebesar Rp31.000 per gram pada Kamis, 28 Mei 2026, membawanya ke level Rp2.754.000 per gram.
Penurunan ini, yang dipantau dari situs resmi Logam Mulia, logammulia.com, menandai pelemahan harga emas Antam selama empat hari perdagangan beruntun dengan total penurunan mencapai Rp49.000.
Sebelumnya, pada Rabu, 27 Mei 2026, harga emas Antam tercatat Rp2.785.000 per gram.
Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga ikut terkoreksi, turun Rp37.000 menjadi Rp2.557.000 per gram pada hari yang sama.
Angka ini menunjukkan harga buyback sebelumnya berada di level Rp2.594.000 per gram.
Update harga emas ini dilakukan setiap hari pada pukul 08:30 WIB, sebagaimana informasi yang tercantum di laman Logam Mulia.
Penurunan harga emas Antam ini sejalan dengan koreksi yang terjadi pada harga emas dunia.
Pada perdagangan Rabu, 27 Mei 2026, harga emas dunia ditutup melemah 1,09% di level US$4.457,03 per troy ons, menurut data Refinitiv.
Faktor utama yang menekan harga emas global adalah ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS).
Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik ketika suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Selain itu, penguatan dolar AS juga menjadi penyebab utama tekanan pada harga emas, membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual, terutama bagi para trader jangka pendek.
Situasi geopolitik global, seperti perkembangan perang AS-Iran dan arah harga minyak dunia, juga turut menjadi perhatian pasar.
Rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan datang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Meskipun terjadi penurunan, pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas Antam berpotensi turun lebih lanjut pada Jumat, 29 Mei 2026, hingga menyentuh level Rp2.745.000 per gram.
Bahkan, pelemahan harga emas masih dapat berlanjut hingga akhir pekan, dengan kemungkinan mencapai level Rp2.720.000 per gram pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Menurut Ibrahim, koreksi harga emas saat ini justru dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka menengah dan panjang, mengingat prospek harga emas yang masih dinilai positif dalam jangka waktu tersebut.
Ia menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek adalah hal yang wajar dalam investasi logam mulia dan investor tidak perlu panik.
Harga emas di Indonesia sangat bergantung pada harga emas dunia yang diperdagangkan dalam dolar AS per ons.
Pergerakan nilai tukar dolar AS memiliki hubungan terbalik dengan harga emas; pelemahan dolar umumnya membuat harga emas naik, dan sebaliknya.
Emas dikenal sebagai aset safe haven, yang nilainya cenderung meningkat di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global, politik, atau krisis.
Ketegangan geopolitik dan pembelian emas oleh bank sentral global juga menjadi pendorong utama kenaikan harga emas.
Sejak tahun 2022, bank sentral di seluruh dunia telah meningkatkan pembelian emas secara signifikan, mencapai lebih dari 1.000 ton setiap tahun, setara dengan 20-25 persen dari total produksi tambang global.
Lembaga investasi global Rockefeller Global Investment Management bahkan memprediksi harga emas bisa menembus US$10.000 per ons pada tahun 2030, didorong oleh tren pembelian bank sentral, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar AS.
Emas dianggap sebagai aset cadangan yang lebih aman karena tidak memiliki risiko pihak lawan dan tidak bergantung pada sistem keuangan tertentu, menjadikannya pilihan kuat dalam portofolio cadangan negara-negara.
Dalam konteks investasi, emas batangan Antam lebih cocok untuk investasi jangka panjang karena adanya selisih (spread) yang cukup tebal antara harga jual dan harga buyback.
Sebagai contoh, emas Antam ukuran 0,5 gram dibanderol Rp1.427.000, sementara 10 gram dijual Rp27.035.000, dan emas terbesar 1.000 gram (1 kg) seharga Rp2.694.600.000 pada hari ini.
Selisih antara harga jual dan harga buyback hari ini mencapai Rp197.000 per gram.
Dengan data historis yang menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam jangka panjang, emas tetap menjadi pilihan investasi yang menarik bagi banyak pihak.
Melihat fluktuasi saat ini, investor disarankan untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan tujuan investasi jangka panjang.




