PortalMadura.com–Harga emas batangan bersertifikat produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui Logam Mulia mengalami penurunan pada Kamis (8/1/2026). Harga jual turun Rp14.000 per gram, dari Rp2.584.000 menjadi Rp2.570.000 per gram.
Bersamaan dengan itu, harga buyback—atau harga pembelian kembali emas oleh Logam Mulia—juga turun sebesar Rp14.000 per gram, dari Rp2.440.000 menjadi Rp2.426.000 per gram. Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback hari ini mencapai Rp144.000 per gram.
Informasi ini dikonfirmasi langsung dari data resmi Logam Mulia, anak usaha Antam yang menjadi rujukan utama harga emas batangan di Indonesia. Harga yang berlaku adalah untuk transaksi pembelian di gerai resmi Logam Mulia di seluruh Indonesia.
Perbedaan signifikan antara harga jual dan buyback menjadi pertimbangan penting bagi calon investor emas. Misalnya, jika seseorang membeli emas pagi ini seharga Rp2.570.000 per gram, lalu terpaksa menjualnya kembali di hari yang sama, emas tersebut hanya akan dihargai Rp2.426.000 per gram—mengakibatkan kerugian langsung sebesar Rp144.000 per gram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi emas batangan lebih cocok dilakukan dalam jangka panjang. Hanya dengan kenaikan harga yang signifikan dalam periode tertentu, investor bisa menutup “spread” tersebut sekaligus memperoleh keuntungan.
Sebagai gambaran, data historis menunjukkan potensi keuntungan bagi yang membeli emas dalam satu tahun terakhir. Investor yang membeli emas pada 8 Juli 2025 dengan harga Rp1.906.000 per gram kini berpotensi untung 27,28%. Angka itu melonjak hingga 57,43% bagi yang membeli pada 8 Januari 2025 (Rp1.541.000 per gram), dan bahkan mencapai 88,21% untuk pembelian pada 8 April 2024 (Rp1.289.000 per gram).
Namun, tidak semua periode memberikan keuntungan. Misalnya, pembelian pada 1 Januari 2026 justru mengalami penurunan nilai sebesar 2,49% hingga hari ini.
Ahli keuangan menyarankan agar calon investor tidak hanya melihat tren harga, tetapi juga mempertimbangkan biaya transaksi dan selisih harga jual-beli sebelum memutuskan berinvestasi dalam emas batangan. Dengan pendekatan jangka panjang dan strategi yang matang, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang andal di tengah ketidakpastian ekonomi global.





