PortalMadura.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau stabil pada Kamis, 25 Juni 2026, namun pergerakan harga emas global di pasar spot menunjukkan tren pelemahan signifikan. Stabilitas emas Antam pada level Rp 2.655.000 per gram kontras dengan penurunan tajam harga emas dunia yang mendekati level terendah sejak November 2025, dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan penguatan Dolar Amerika Serikat.
Pada Kamis (25/6/2026) pagi, harga emas Antam untuk pecahan 1 gram tetap di angka Rp 2.655.000, tidak berubah dari posisi perdagangan Rabu (24/6/2026).
Namun, harga pembelian kembali (buyback) emas oleh Logam Mulia merosot tajam sebesar Rp 52.000, dari Rp 2.372.000 menjadi Rp 2.320.000 per gram.
Baca Juga:
Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback emas Antam pada hari ini mencapai Rp 335.000 per gram.
Di pasar global, harga emas spot diperdagangkan di sekitar US$ 3.998,16 per troy ounce pada Kamis (25/6/2026) pukul 15.30 WIB, mengalami koreksi 5,03% dalam sepekan terakhir dan 11,35% dalam sebulan.
Harga emas dunia juga sempat anjlok ke bawah US$ 4.000 per ons pada Rabu, mencapai level terendah sejak November 2025.
Meskipun demikian, harga emas global masih tercatat 20,32% lebih tinggi dibandingkan posisi setahun yang lalu, menunjukkan volatilitas jangka pendek di tengah tren kenaikan jangka panjang.
Faktor Utama Penekan Harga Emas
Pelemahan harga emas saat ini terutama disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter agresif Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) atau bahkan berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga dua kali pada tahun ini, kemungkinan pada Juli, September, atau Desember.
Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset berdenominasi dolar AS, seperti obligasi, menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.
Penguatan indeks Dolar AS (DXY) yang mencapai level 101,5 juga turut menekan harga emas, karena emas yang diperdagangkan dalam denominasi Dolar AS menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Analis dari Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, menilai kenaikan suku bunga menjadi salah satu risiko terbesar bagi harga emas dalam jangka pendek.
Selain itu, setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.594,82 per troy ounce pada akhir Januari 2026, koreksi harga juga terjadi akibat aksi ambil untung oleh investor.
Kondisi geopolitik yang sempat menunjukkan sinyal mereda, seperti kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, juga dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset ‘safe haven’.
Proyeksi Harga Emas dari Para Ahli
Analisis Jangka Pendek dan Menengah
Sejumlah pakar dan lembaga keuangan global telah merevisi proyeksi harga emas mereka di tengah dinamika pasar saat ini.
Trading Economics memproyeksikan harga emas akan diperdagangkan pada US$ 4.161,84 per troy ounce pada akhir kuartal ini dan mencapai US$ 4.527,47 dalam 12 bulan ke depan.
Analis ING kini memperkirakan rata-rata harga emas akan mencapai US$ 4.300 pada kuartal ketiga dan US$ 4.600 per troy ounce pada kuartal keempat 2026, menurun dari proyeksi sebelumnya.
Goldman Sachs juga memangkas target harga emas mereka untuk akhir tahun 2026 menjadi US$ 4.900 per troy ounce dari sebelumnya US$ 5.400, bahkan berpotensi turun hingga US$ 4.400 jika The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Deutsche Bank merevisi proyeksi rata-rata harga emas menjadi US$ 4.300 per troy ounce pada kuartal ketiga 2026, dengan potensi rebound ke US$ 4.800 pada kuartal keempat.
Bank of America sebelumnya memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 3.350 per ons pada tahun 2026.
Optimisme Jangka Panjang
Meskipun terjadi koreksi, banyak analis masih melihat prospek emas tetap positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik yang berulang, dan potensi penurunan suku bunga bank sentral di masa mendatang masih menjadi faktor pendorong minat investor terhadap aset safe haven.
Pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara, terutama negara-negara BRICS yang melakukan diversifikasi cadangan devisa dari Dolar AS, terus memberikan dukungan signifikan terhadap harga emas.
NH Korindo Sekuritas Indonesia bahkan mempertahankan rekomendasi BUY untuk emas, dengan target harga US$ 6.000 per ons pada akhir 2026, didukung oleh kenaikan tensi geopolitik dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed.
Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, optimistis harga emas dunia dapat kembali naik hingga mendekati US$ 5.000 per ons troi pada akhir tahun dan harga emas Antam bisa mencapai Rp 3,2 juta per gram.
Strategi Investasi Emas di Tengah Volatilitas
Para ahli menyarankan investor untuk tidak panik dengan koreksi harga yang terjadi saat ini.
Koreksi harga emas justru dapat menjadi momentum menarik bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Investor kawakan Robert Kiyosaki menegaskan bahwa dirinya tidak berencana menjual kepemilikan aset emasnya saat harga jatuh, melainkan menunggu momentum yang tepat untuk menambah porsi investasinya.
Emas secara historis terbukti sebagai lindung nilai terbaik terhadap inflasi dan aset yang cenderung meningkat dalam jangka panjang.
Penting bagi investor untuk menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan, profil risiko, dan strategi alokasi aset yang matang.
Mengingat harga emas bersifat siklikal dengan fase koreksi yang wajar, investor dengan horizon 3–5 tahun ke atas cenderung lebih tahan terhadap volatilitas jangka pendek.
Dengan memantau perkembangan kebijakan moneter global, sentimen geopolitik, dan data ekonomi, investor dapat membuat keputusan yang lebih terukur dalam mengelola portofolio emas mereka.






