PortalMadura.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) global menunjukkan tren pelemahan pada 21 Mei 2026, terutama di Bursa Malaysia, dipengaruhi oleh perlambatan permintaan global dan kebijakan baru dari Indonesia.
Kontrak berjangka CPO Malaysia tercatat melemah 0,56% menjadi MYR 4.556 per ton pada Kamis, 21 Mei 2026.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah harga CPO juga turun tipis 0,05% menjadi MYR 4.583 per ton pada Rabu, 20 Mei 2026.
Sentimen pasar terbebani oleh harga minyak nabati yang lebih lemah di bursa Dalian dan Chicago, serta data ekspor Malaysia yang lesu.
Penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia sekitar 0,18% terhadap dolar AS juga membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.
Di Indonesia, kebijakan baru Presiden Prabowo Subianto yang akan memusatkan ekspor semua komoditas sumber daya alam, termasuk minyak kelapa sawit, melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia menimbulkan kekhawatiran pasar.
Pelaku pasar khawatir kebijakan ini dapat mengubah mekanisme ekspor sawit global dan memperketat pasokan dari Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia.
Sementara itu, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani di berbagai daerah Indonesia juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, harga TBS sawit mitra plasma untuk periode I-Mei (1-15 Mei 2026) disepakati turun Rp 33,75 per Kg menjadi Rp 3.749,40 per Kg untuk sawit berumur 10-20 tahun.
Harga CPO di Kalteng untuk periode yang sama ditetapkan sebesar Rp 15.079,85 per Kg.
Di Aceh Singkil, harga TBS di tingkat petani ambruk sekitar Rp 200 per kg menjelang Idul Adha, menjadi di kisaran Rp 2.450 hingga Rp 2.500 per kilogram pada 21 Mei 2026.
Secara lebih luas, Pempem mencatat harga TBS di 47 pabrik kelapa sawit di seluruh Indonesia pada 21 Mei 2026 berkisar antara Rp 2.650 per kg hingga Rp 4.150 per kg.
Harga spot CPO di Medan tercatat Rp 20.339 per kg berdasarkan data 19 Mei 2026 dari Bappebti.
Keseluruhan sentimen membuat pelaku pasar global mengambil sikap ‘wait and see’ di tengah berbagai ketidakpastian yang mempengaruhi komoditas ini.




