PortalMadura.com–Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir tahun 2025 dengan penguatan tipis 2,68 poin atau 0,03 persen ke level 8.646,94 pada Selasa (30/12). Meski indeks LQ45 melemah 0,64 persen ke 846,57, kinerja IHSG sepanjang tahun justru mencatat capaian impresif dengan kenaikan 22,10 persen year-to-date (ytd).
Pencapaian ini menjadi bukti ketahanan pasar modal Indonesia di tengah tekanan ekonomi domestik dan global yang fluktuatif sepanjang tahun. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga penutupan 29 Desember 2025, IHSG berada di level 8.644,26, menandai salah satu performa terbaik dalam lima tahun terakhir.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyatakan bahwa 2025 menjadi tahun pembuktian bagi ketangguhan pasar modal Tanah Air. “Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia. Meskipun menghadapi tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid,” ujarnya seusai penutupan perdagangan, Selasa (30/12).
Aktivitas Perdagangan Meningkat, RNTH Capai Rp18 Triliun
Aktivitas perdagangan di BEI juga mencatat peningkatan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sepanjang 2025 mencapai Rp18,06 triliun, naik dibandingkan tahun sebelumnya. Volume transaksi harian rata-rata menyentuh 30,27 miliar lembar saham, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,78 juta kali per hari.
Salah satu sorotan utama adalah pencapaian 24 kali all-time high oleh IHSG sepanjang tahun. Kapitalisasi pasar juga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni Rp16 ribu triliun.
Jumlah Investor Tembus 20,3 Juta, Ritel Masih Dominan
Pertumbuhan partisipasi investor menjadi pendorong utama dinamika pasar. Hingga akhir 2025, total investor pasar modal Indonesia—meliputi saham, obligasi, dan reksa dana—mencapai 20,3 juta orang, meningkat 36,67 persen dibanding 2024.
Investor saham kini mencapai 8,59 juta, bertambah lebih dari 2,2 juta dalam setahun. Rata-rata investor aktif per bulan mencapai 901 ribu orang. Dari total transaksi, investor ritel masih mendominasi dengan porsi 49,9 persen, sementara investor institusi asing menyumbang 36,3 persen dari RNTH hingga November 2025.
IPO dan Pencatatan Efek: 26 Emiten Baru, Penghimpunan Dana Naik 26,6%
Di sisi pencatatan, BEI menambah 26 emiten baru sepanjang 2025, dengan total dana hasil penawaran umum (IPO) mencapai Rp18,1 triliun. Enam di antaranya merupakan IPO kategori “Lighthouse” yang menarik perhatian pasar.
Meski jumlah IPO lebih sedikit dibanding 2024, nilai penghimpunan dananya justru naik 26,6 persen. Berdasarkan laporan EY Global IPO Trends Q3 2025, BEI menempati peringkat ke-11 dunia dari sisi jumlah IPO.
Total perusahaan tercatat di BEI kini mencapai 956 perusahaan. Selain saham, BEI juga mencatat 181 emisi obligasi dan sukuk, 3 Exchange-Traded Fund (ETF), 1 Efek Beragun Aset (EBA), serta 647 waran terstruktur sepanjang tahun.
Dengan capaian ini, pasar modal Indonesia tidak hanya menunjukkan ketahanan, tetapi juga kesiapan untuk menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional di tahun-tahun mendatang.





