IHSG Diprediksi Terkoreksi Tajam 2 Juni 2026: Sentimen Domestik dan Global Memicu Tekanan Jual

Avatar of PortalMadura.com
IHSG Diprediksi Terkoreksi Tajam 2 Juni 2026: Sentimen Domestik dan Global Memicu Tekanan Jual
IHSG Diprediksi Terkoreksi Tajam 2 Juni 2026: Sentimen Domestik dan Global Memicu Tekanan Jual

PortalMadura.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi tekanan jual signifikan dan rawan terkoreksi pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, setelah dibuka kembali pasca libur panjang Hari Lahir Pancasila.

Proyeksi pelemahan ini didorong oleh kombinasi sentimen negatif dari pasar domestik maupun global, yang telah menumpuk sepanjang akhir Mei hingga awal Juni.

Pada penutupan perdagangan terakhir Jumat, 29 Mei 2026, IHSG terpantau melemah tipis 0,05% ke level 6.127,38, memperpanjang tren koreksi mingguan sebesar 0,56% dengan volume penjualan yang meningkat.

Secara tahun berjalan (year-to-date), kinerja IHSG tercatat anjlok tajam sebesar 29,14%, menjadikannya salah satu indeks dengan penurunan terburuk di dunia.

Aliran keluar dana investor asing (net foreign sell) menjadi pemicu utama tekanan pasar, dengan nilai jual bersih mencapai Rp 45,45 triliun sepanjang 2026 hingga akhir Mei.

Khusus pada perdagangan 29 Mei 2026, aksi jual bersih asing bahkan menembus angka lebih dari Rp 8,5 triliun, yang sangat membebani likuiditas dan valuasi saham-saham berkapitalisasi besar.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG akan menguji level support 5.899, sekaligus area koreksi berikutnya, dengan potensi pergerakan di rentang 5.996 hingga 6.459 pada perdagangan hari ini.

Dalam pandangan mingguan, Herditya juga mencermati IHSG masih rawan terkoreksi dengan level support di 6.071 dan resistance di 6.262, sebagaimana disampaikannya kepada Kontan pada Jumat, 29 Mei 2026.

Sementara itu, riset dari PT Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi melemah terbatas, dengan level support dan resistance kunci di kisaran 5.880–6.220.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, turut menyoroti bahwa secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish jangka pendek, dengan area support penting di kisaran 5.900-6.000.

Beberapa sentimen domestik yang menjadi perhatian investor adalah rilis data inflasi Mei 2026 yang diproyeksikan naik, serta surplus neraca perdagangan April 2026 yang diperkirakan anjlok.

Implementasi tahap awal kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), yang mewajibkan eksportir memulangkan 100% devisanya, juga menjadi faktor penting yang dicermati pelaku pasar.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah hingga di atas level psikologis Rp 17.800 menjadi sentimen negatif lainnya, meningkatkan persepsi risiko bagi investor asing.

Dari sisi global, investor menantikan rilis data Purchasing Manager’s Index (PMI) dan data pekerjaan dari Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Eskalasi konflik di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian utama, karena berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan mempengaruhi aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, rebalancing indeks MSCI yang efektif mulai 1 Juni 2026 diperkirakan memicu keluarnya dana asing bernilai belasan triliun rupiah, mengingat banyak emiten Indonesia terdepak dari perhitungan indeks tersebut.

Faktor-faktor seperti arah suku bunga Bank Indonesia, perkembangan isu Danantara, dan program hilirisasi pemerintah juga akan turut mempengaruhi sentimen pasar.

Kinerja emiten pada kuartal II-2026 akan menjadi indikator krusial untuk menilai apakah penguatan pasar yang terjadi hanya bersifat technical rebound atau didukung fundamental kuat.

Meskipun demikian, ada peluang terjadinya technical rebound jika arus dana asing kembali masuk ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, menurut Elandry Pratama dari Panin Sekuritas pada 29 Mei 2026.

Dalam menghadapi kondisi pasar yang rawan koreksi ini, analis merekomendasikan beberapa saham pilihan yang layak dicermati oleh investor.

Saham-saham seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masuk dalam daftar rekomendasi dengan target harga yang spesifik.

Untuk DEWA, Herditya Wicaksana merekomendasikan target harga Rp 384-Rp 412, sementara UNTR di rentang Rp 24.225-Rp 25.250.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga disebut sebagai saham menarik dengan target harga Rp 1.805-Rp 2.000.

Selain itu, beberapa emiten lainnya seperti PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (STAA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Buana Finance Tbk (BFIN), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Lima Sejajar Tbk (LFLO), dan PT Gema Graha Sarana Tbk (GEMA) akan memasuki periode cum dividen pada 2 Juni 2026.

Meskipun saham-saham cum dividen menawarkan yield menarik, investor tetap diimbau untuk mewaspadai potensi ‘dividend trap’ atau penurunan harga saham setelah periode cum dividen.

Investor juga perlu mencermati fundamental perusahaan, likuiditas saham, serta prospek bisnis jangka panjang sebelum mengambil keputusan investasi.

Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia di awal Juni 2026 masih akan dibayangi volatilitas tinggi dan memerlukan kehati-hatian dari para pelaku pasar.

Kondisi ini menuntut investor untuk terus memantau perkembangan data ekonomi, kebijakan pemerintah, serta sentimen global secara cermat untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses